“Hu hu… Sas, aku sayang banget sama Ronald.” Ella tersedu-sedu di bahu Saskia. Nafasnya naik turun tak beraturan, sementara mata sembapnya terpaku pada seuntai kalung di tangannya. Kalung itu diremas-remas, lalu diuraikannya, lalu diremasnya lagi. Begitu terus dilakukannya berulang-ulang selama setengah jam perjalanan mereka. “Iya El aku ngerti, rasa sayangmu itu sedalem samudra Atlantik, tapi kamu nggak rela dijadiin selingkuhan kan?” Saskia berusaha agar bahunya tetap tegak untuk menopang kepala sahabatnya itu. “Enggak.” Ella menggeleng pedih, “Tapi masalahnya, aku masih sayang banget...” katanya dengan mata berkaca-kaca. “Jadi gimana dong Sas?” Sekali lagi Ella mengajukan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan sederhana yang tidak sanggup dijawabnya sendiri. Tapi apakah tepat jika Saskia yang memberikan jawabannya? “Sabar ya El, biar pikiranmu jernih dulu. Call me anytime.” “Iya Sas, thanks ya, untung aku punya sahabat kayak kamu. Jadi bisa curhat banyak.” “Thanks juga, kamu percaya sama aku. Oh ya pak Dul, saya mau turun di Rajawali mall aja.” “Lho, nggak mau dianterin sampe rumah Non?” Pak Dulah melirik ke kaca spion, mencari celah untuk pindah ke lajur kiri. “Nggak pak, soalnya ada yang mau dibeli dulu.” “Belanja lagi Sas? Trus nanti kamu pulangnya jalan kaki lagi dong?” tanya Ella sambil menegakkan kembali kepalanya. “Iya, deket aja kok. Thanks ya?” Saskia menggenggam tangan sahabatnya. “Sas, nanti malem aku telpon ya?” “Oke, sampai nanti!” Saskia turun dari mobil, melambaikan tangan, lalu dengan lincah berjalan masuk ke mall. Benar-benar seorang gadis yang enerjik dan menyenangkan! Sepertinya enak jadi Saskia, segala sesuatunya baik-baik saja dan selalu gembira. Hm, ke mana lagi hari ini? Rasa-rasanya seluruh mall sudah habis disapunya. Kalau bukan karena Ella butuh tempat curhat, tidak mungkin Saskia mau menumpang di mobilnya tiga hari berturut-turut. Masih terlalu siang untuk pulang. Yeah, nongkrong di Mc. Donald aja kali ya! “Wah, ada yang lagi traktiran nih?” suara cowok dari belakang, rasanya tidak asing. “Reza??” teriak Saskia terkejut, “Siang-siang kok ngelayap di mall?” “Ooo.. pantesan burgernya abis, ternyata kamu sikat semua.” Reza duduk di sebelah Saskia tanpa menjawab pertanyaannya. “Itu, apaan?” Saskia meremas bungkusan di atas nampan Reza. “He he, becanda ah, serius amat! Lagi nungguin siapa sih?” “Enggak nunggu siapa-siapa, cuma lagi makan siang aja. Kamu?” “Makan siang aja? Segitu banyak??” Reza melotot tidak percaya. “Iya, kenapa, nggak pernah liat orang laper ya?” katanya sambil mengisi mulut. “Wow, ternyata begini kalo cewek lagi laper ya?” Saskia tersenyum dengan sekepal burger memenuhi mulutnya. “Kamu ngapain sendirian di sini?” “Siapa bilang sendirian? Aku lagi nemenin Mama.” “Oh ya? Mana?” Saskia mencari-cari sosok ibu-ibu yang mirip temannya ini, eh mungkin, karena sampai saat ini belum pernah Reza memperlihatkan mamanya. “Masih di supermarket, kebetulan tadi ketemu temen lamanya, makanya aku makan aja di sini.” Reza tertawa lebar lalu memasukkan burgernya yang setebal kamus itu ke dalam mulut. “Yah, itu sih bukan nemenin!” dipukulnya bahu Reza dengan tangan berlumuran saus merah. “Hei, kotor tuh!” Seru Reza menghindar. “Yeah, enak ya jadi kamu?” Saskia tertawa lebar sampai-sampai sayuran hijau di dalam mulutnya kelihatan. “Enak?” Reza mengernyitkan dahi. “Yah, enak banget.” jawab Saskia ringan sambil terus mengunyah. “Ah, lebih enak kamu dong tiap hari bisa deket sama Ella.” “Hah? Sembarangan, emang kami ini cewek apaan?” “Eit, sabar jeng, jangan salah paham. Maksudku...” Reza mengernyitkan dahi, berusaha membuat kalimat yang lebih baik. Tapi semakin dipikirnya, semakin rumit merangkai kata-kata di otaknya. “Mmm.. dia kan.. eng, aku.. fuuh, gimana ya?” “Ooohh... aha!” Saskia menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Reza, dan seketika menyulapnya jadi semerah tomat. “Sas, please, jangan berpikir macem-macem dulu.” “Aku cuma mikir satu macem kok.” Saskia mengerlingkan matanya. “Aku.. ehm, Sas jangan bilang sama dia ya?” “Sembarangan!” “Baguslah, besok aku mau ngomong langsung tanpa perantara.” wajah Reza mulai normal, bahkan penuh keyakinan. “Siapa bilang kamu boleh deketin Ella besok?” Saskia mengulum senyum. “Siapa bilang nggak boleh?” Reza mengembangkan senyumnya. “Aku.” jawab Saskia singkat. Suasana hening sejenak, mata mereka saling bertatapan. Sesaat kemudian yang terdengar hanya suara mulut-mulut mereka sibuk mengunyah. Saskia sudah sampai pada burger ke tiga, dan mereka masih saling diam. Sampai pada burger ke empat Saskia, Reza mulai curiga. Apakah Saskia akan menghabiskan semua itu? Cara makannya bukan seperti orang kelaparan, ia hanya memaksakan saja semua itu masuk ke mulutnya. Dengan marah tepatnya. “Sas, kamu udah kekenyangan tuh.” Reza berpindah duduk di hadapan Saskia. Cewek itu menggeleng dan tetap sibuk mengunyah sambil sesekali bersendawa. “Hei, udah over dosis Sas. Bukannya kamu mau bawa pulang itu burger?” “Buat apa?” tanyanya sambil terus mengunyah tak beraturan seperti orang kesurupan. Wah, jangan-jangan memang bukan Saskia yang makan, tapi setan yang sedang merasukinya. “Sas, udah ah, jangan kebanyakan gitu.” Reza menjauhkan enam burger yang tersisa di atas meja. “Hei, sini.” Saskia berusaha meraih satu bungkusan lagi, tapi Reza malah memindahkan nampan itu ke pangkuannya. “Udah ah Sas, kamu kenapa sih?” “Aku laper, lapeeer banget!” katanya berusaha menggapai ke seberang meja. Tidak dapat. Saskia malah jatuh terjungkal ke atas meja seperti orang mabuk. “Reza, kamu jangan coba-coba ngerjain aku ya, sini!” matanya memerah. “Sas, udah dong kamu kan udah makan empat?” Reza menjejakkan kaki untuk menjauhkan kursinya. “Tapi aku lapeeeer banget. Please…?” ada genangan di sudut matanya. “Kamu kenapa sih?” tanya Reza. “Bukan urusanmu!” Saskia buru-buru berdiri lalu berjalan memutar untuk mendapatkan kembali makan siang porsi supernya. “Kamu, datang tak diundang, merusak acara makan orang lain!” dirampasnya nampan di pangkuan Reza hingga dua buah burger jatuh berceceran di lantai. “Aduh, sorry Sas, sorry!” Reza jadi panik, apalagi seorang pegawai restoran itu mendekati mereka. “Nyebeliiiin!!!” Saskia melemparkan empat bungkus burger yang tersisa ke dalam tasnya, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah lebar. Reza mengikutinya dengan cemas di sepanjang area pertokoan di mall sampai berbelok di sebuah toilet wanita. Aneh banget, kenapa Saskia tiba-tiba berubah? Bersambung
No comments:
Post a Comment