02 December 2011
Enak ya, jadi kamu? #2
“Hei, kamu kenapa?” cegat Reza di pintu toilet wanita. “Sas, jawab dong?” “Ngapain sih kamu ngikutin terus?” Saskia berhenti dan memandang wajah temannya itu dengan kesal sekaligus senang, karena itu berarti ada seseorang bersamanya saat ini. “Kamu, abis makan di toilet??” tanya Reza serius. Saskia menggeleng lesu, lalu sebutir air jatuh dari sudut matanya. “Kamu mau burgernya? Ambil nih.” dibukanya tas sekolahnya, memperlihatkan empat buah burger sedang berdesak-desakan. “Enggak Sas, aku udah cukup.” “Aku juga kenyang banget, ooouwh..” Saskia mengelus perutnya, tersenyum, lalu menutup tasnya dan terus berjalan. Senyum itu kelihatan pahit. “Kamu marah sama aku?” Reza memulai lagi dengan lebih berhati-hati. “Udah tau, kenapa masih tanya lagi?” sahut Saskia sambil lalu. “Kupikir tadi kamu mendukungku Sas? “Hm.. aku memang lebih seneng kalo Ella sama kamu daripada sama Ronald.” “Nah, trus, kenapa kamu marah??” “Masalahnya, kamu tuh nyebelin banget! Sekarang ini kan Ella lagi dirundung duka, kalo mau tembak juga, itu namanya egois, tau! “Lho, lebih baik kan? Daripada dia tersiksa mikirin si Ronald?” “Mau jadi pahlawan nih?” “Hei, jangan nyindir gitu dong?” “Ya, abisnya kamu seperti mau mengalihkan perhatian Ella sih. Dia kan belum bilang putus sama Ronald?” “Ya tapi udah jelas kan, nggak mungkin dong mau diterusin sama Ronald?” “Reza, udah kubilang aku setuju! Tapi kamu nggak boleh ganggu Ella sekarang ini, dia kan belum bikin keputusan!” “Jelas aja, dia kan lagi bingung?” “Makanya, kasih kesempatan orang bingung buat mikir dulu. Oke?” “Orang bingung mana bisa mikir?” Saskia menarik nafas, membuang nafas perlahan, lalu menusuk Reza dengan lirikan matanya. “Oke, waktu untuk berpikir." Reza mencoba berkompromi, "Tapi sampai kapan?” “Sampai dia siap menerima kenyataan bahwa Ronald bukan cowok baik buat dia, sampai dia sendiri pengen putus, dan sampai dia sendiri bilang putus.” “Gimana kalo dia bingung terus, dan nggak pengen putus?” “Sebenernya yang lagi bingung itu Ella apa kamu sih?” nada bicara Saskia semakin meninggi. Reza menggaruk kepalanya. “Uuuh, oke aku kalah.” “Kalah apa? Emang kita lagi ikut kuiz apa ya?” tatap Saskia dengan muka kesal. “Aku memang egois, aku nggak mau Ella jatuh ke tangan cowok lain." ucap Reza sembari membalas tatapan Saskia. "Tapi apa itu salah? Aku kepingin dia berhenti mikirin Ronald si anak kurang ajar, aku mau dia kembali ceria!” serunya tak kalah kesal. “Itu kan maunya kamu? Rezaaa aku juga pengennya gitu!" sekuat tenaga Saskia menahan volume suaranya, lalu membuang tatapannya ke tempat lain. "Kamu tau? Setiap kali dia curhat, rasanya aku pengen banget ngomong gini: Udah El, cowok kayak gitu dibuang aja ke laut, byur!” katanya dengan gerakan melempar bola basket. “Nah, betul itu. Kenapa kamu nggak ngomong gitu aja?” tanya Reza bergairah. “Kalo aku ngomong gitu, emang sih Ella akan lebih dapet dukungan buat ninggalin Ronald.” “Bener banget, aku suka itu! Trus kenapa?” “Masalahnya, aku takut. Kalo nanti Ella memutuskan itu karena dukungan orang lain, bukan dari hasil pertimbangannya sendiri, gimana?” “Ya nggak masalah juga kan? Memang dia perlu dukungan kok, kamu nggak salah dong?” “Entahlah, aku nggak yakin Za. Sampai sekarang aku masih berharap Ella menyadari keadaannya yang sebenarnya, dan bisa membuat keputusan sendiri. Biar dia juga sadar betul sama resikonya, dan sanggup menanggungnya.” “Resiko apa maksudmu?” “Resiko sakit hati.” “Hm... iya betul juga ya.” “Resiko penasaran juga.” “Penasaran? Bukannya semua fakta udah jelas Sas?” “Itu kan faktanya, tapi gimana perasaannya?” "Maksudmu, bisa penasaran sama perasaan sendiri, gitu?" "Iya. Kalo perasaan kita belum jelas tapi langsung diinterupsi, besok-besok kita bisa penasaran." “Hm.." Reza menggaruk-garuk kepalanya lagi. "Ada yang lain lagi?” “Resiko kangen.” jawab Saskia datar. “Ah, masa kangen? Sama Ronald maksudnya, yang bener aja?” “Mungkin aja. Itu kan masalah perasaan, siapa yang tau? Kata orang, pacar pertama sulit dilupain lho.” “Ah, ya, ya, dunia cewek memang sulit dimengerti.” “Huh, katanya mau punya pacar, mana bekalnya?” “Hei, tapi kan aku udah belajar sesuatu hari ini." "Oh ya?" "Ya itu tadi. Kesimpulannya, Ella masih bingung. Seandainya dia mau sama aku, mungkin nggak sepenuh hati. Jadi aku harus sabar menunggu.” "Jadi udah mau bersabar nih?" "Demi cinta Sas, kenapa tidak?" “Sebenernya aku nggak tau pasti juga gimana nantinya. Tapi kalo sekarang-sekarang ini, kayaknya kamu bisa jadi tempat pelarian yang nyaman.” “Trims ya Sas, kamu penasihat cintaku hari ini.” “Sorry ya Za, tadi aku marah-marah.” “Ya, aku emang egois sih, pantes dimarahin.” “Tapi nggak seharusnya aku marah ke kamu, ngomong biasa begini lebih enak.” “Hehe.. ya udah. Kamu sahabatnya Ella sih, jadi ikutan emosi ya?” “Enggak juga." Saskia menggeleng, "Waktunya aja yang kurang tepat. Sorry ya Za...” “Haha, iya, iya. Nggak pa-pa kok." Reza tertawa renyah. "Tau nggak, kamu tadi seperti bukan Saskia beneran.” “Hah?! Emangnya Saskia beneran kayak apa?” “Yah, pokoknya nggak seperti yang tadi itu.” “Kalo yang tadi itu, cocoknya dikasih nama siapa dong?” Saskia cengar-cengir karena malu. “Pendekar mabok. Tapi maboknya bukan pake arak, mabok burger!” “Bisa aja Za, kamu tuh yang lagi mabok cinta.” “Hei, kamu beli sepuluh burger itu kan sebelum aku datang. Lagi marah sama siapa sih?” Saskia menggeleng pelan, “Di dunia ini yang nyebelin bukan cuma kamu.” di bibirnya tersungging senyum, tapi kecut. “Oh ya? Siapa lagi?” “Hmpf. Udahlah, nggak perlu dibahas.” dilepasnya senyum kecut itu ke udara bersama hembusan nafasnya. “Eh, ada cowok lain? Sainganku?? Wah kalo itu perlu dibahas dong.” ekspresi janggal itu membuat Reza semakin ingin tahu. “Kayaknya sampai hari ini belum ada cowok lain yang deketin Ella deh, tenang aja.” “Oh, berarti yang deketin kamu dong? Siapa Sas?” “Idiih... sembarangan.” tawa lebar di bibir menutupi kecut dan pahit di dalam sorot matanya. “Lha, trus?” Saskia mengangkat bahu, menghentakkan kakinya ke lantai. "Nih orangnya." katanya serius sambil menunjuk ke mukanya sendiri. “Kamu? Maksudnya apa?” “Sorry, aku nggak pengen bahas itu.” Reza benar-benar tidak mengerti, mengapa gadis sebaik ini memandang buruk dirinya sendiri? Hari ini Saskia memang lebih ekspresif dari pada biasanya. Makan berlebihan, marah-marah, menangis pula. Seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri, atau mungkin sedang melepaskan kendalinya, atau tidak ingin mengendalikan diri? Aaah, kenapa sih Saskia jadi kacau gini, nggak asyik banget. Ternyata, di balik penampilannya yang lincah dan cerdas itu, ada kekacauan yang tersimpan. Tapi apakah tepat kalau Reza membahasnya sekarang ini? “Udah mau pulang?” tanya Reza memecah keheningan. Saskia menggeleng sambil terus melangkah, matanya memandang lurus ke depan, sedikitpun tidak melirik aneka barang pajangan di sepanjang pertokoan. “Duduk yuk, di situ.” Reza memberanikan diri menggandeng tangan Saskia ke taman buatan di tengah mall. Hangat sekali sentuhan tangannya. Entah sudah berapa lama keadaan ini berlangsung, sampai Saskia menjadi seorang gadis yang haus kasih sayang. “Bentar, aku sms mamaku dulu.” kata Reza setelah mereka duduk di sebuah bangku panjang. “Duile yang anak mama.. udah kangen ya?” “Ih, enggak segitunya kali. Cuma ngasih tau perubahan posisi aja biar nggak dicari-cari.” Saskia mentap lekat-lekat wajah bahagia Reza. Wajah yang penuh cinta, dan penuh semangat untuk menyampaikan cintanya. Bersambung ke bagian 3 1 2 3 4 5 6 7
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment