05 December 2011
Enak ya, jadi kamu? #5
“Tante, apa saya boleh tanya sesuatu?” tanya Saskia ragu-ragu. “Apa?” tante Lisa memicingkan mata sipitnya sambil terus berjalan. Kedua kaki mungilnya melangkah tertatih karena harus menopang tubuh yang begitu besar. “Bagaimana Tante bisa nebak nama saya Ella?” Saskia memperlambat langkah untuk tetap berada di sampingnya. Tante Lisa tersenyum, wajahnya sekarang terlihat lebih rileks. “Reza pernah menyebut nama Ella, makanya Tante kirain kamu Ella.” “Ella sahabat saya di sekolah.” sahut Saskia senang. “Oh ya? Eh, Tante mau beli palu dulu nih.” “Tante, boleh nanya lagi? Please?” “Iya Tante sih nggak keberatan, tapi ini sudah hampir sore lho, bukannya kamu harus pulang?” “Sebentar aja Tante, Reza cerita apa tentang Ella?” “Hmm.. ” tante Lisa berpikir sejenak, “Apa kamu suka Reza?” “Iya Tante, Saskia sangat suka pada Reza.” jawab Saskia mantap. “Oh, kalau begitu kamu tidak akan suka jawaban Tante.” tante Lisa menggeleng pelan. “Kenapa Tante? Saya memang suka Reza, dan saya sangat ingin tahu pikiran Reza tentang Ella.” “Oh my dear, maafkan Tante, aku tidak bisa melakukannya.” tolaknya dengan prihatin. “Tante, kenapa tidak? Ella adalah sahabat saya Tante, please… saya ingin yang terbaik buat Ella.” “Tante tidak ingin melukai hatimu nak.” wajah tante Lisa begitu sendu, “Rasanya akan sakit sekali.” disentuhnya pipi Saskia dengan lembut. “Oh, sepertinya Tante salah mengerti!” mata Saskia berbinar, “Tante mengira saya jatuh cinta sama Reza ya?” “Bukannya kamu bilang suka tadi?” muka sedih tante Lisa berganti menjadi muka bingung. “Ah Tante bisa aja, suka tidak sama dengan cinta kan Tante?” Saskia menyilangkan jari-jarinya membentuk tanda ≠ . “Ooooh??” tante Lisa menghela nafas lega, “Syukurlah kalau begitu. “Jadi, kamu cintanya sama anak lain?”muka bingung tante Lisa mulai fresh lagi. “Hehe, enggak juga Tante. Saya nggak tertarik pacaran.” Saskia tertawa renyah. “Jadi Tante, Reza sering cerita soal Ella?” tanyanya menagih jawaban. “Hm, ya.. begitulah. Sudah lama Reza menyimpan perasaannya.” “Aaah... keren banget!” senyum cerah mengembang di bibir Saskia. “Ella pasti bahagia.” “Reza bilang, Ella gadis yang lembut seperti mamanya.” bibir mungil tante Lisa menyunggingkan senyum. “Tapi Ella tidak pemarah dan kasar lho Tante.” Saskia mengernyitkan dahi. “Lho, Nanda juga bukan pemarah, apalagi kasar. Kamu jangan bilang begitu ya?” tante Lisa menekankan kalimatnya pada Saskia, membuatnya jadi salah tingkah. “Maafkan saya.” ucap Saskia pelan, bersiap-siap mengakhiri pembicaraan. Tante berbadan besar ini bukan teman bicara yang menarik, dia hanya ingin membela temannya. “Oh?” tante Lisa menutupi mulutnya. “Eh, aduh, sorry?” giliran tante Lisa yang salah tingkah sekarang. “Maksud tante gini, tante Nanda itu aslinya baik dan lembut.” “Iya Tante nggak pa-pa, saya pulang dulu. Permisi.” Saskia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, meninggalkan tante Lisa dengan mulut terkatup. Sepertinya masih ada penjelasan yang tertinggal, tapi Saskia tidak ingin mendengarnya lagi. Yang penting Reza cowok baik dan menyayangi Ella dengan tulus. Tidak peduli ibunya seperti apa, yang penting anaknya baik, titik. Jalan raya masih juga padat, hiruk pikuk Surabaya memang tidak ada habisnya. Tapi hati Saskia merasakan sepi luar biasa. Ditatapnya matahari di bagian barat kota dengan pancaran cahaya keemasaanya. Uuuh.. enaknya jadi matahari, terbit di timur tenggelam di barat, nggak pusing ngurusin yang lain. Bersambung ke bagian 6 1 2 3 4 5 6 7
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment