04 December 2011

Enak ya, jadi kamu? #4

“So, sore tante.” sapa Saskia gagap, sambil bergeser agak menjauh. “Iya, ada apa? Oh, temen Reza??” wanita yang berbadan besar menoleh padanya dengan dahi berkerut. Olala, Saskia jadi salah tingkah, duh kenapa jadi ikut nimbrung di sini? Yang kurus itu pasti mamanya Reza, dan ini temannya. Dilihatnya Reza dengan perasaan serba salah, dan Reza pun berusaha menoleh pada Saskia dengan telinga kiri terangkat dalam jeweran mamanya. Dan sekarang, mamanya pun menoleh dan mengikat kedua mata Saskia dengan tatapan pedas. “Jadi kamu to, yang ngajakin anak saya keluyuran?” penekanan suaranya menggambarkan seolah Saskia sudah melakukan tindakan kriminal saja. Oh, inikah mamanya Reza yang tadi dibayangkannya? “Maa.. maaf, Tante.” jawab Saskia ketakutan, rasanya ingin menghilang saja dari tempat itu. Tapi bagaimana mungkin meninggalkan Reza dalam keadaan tidak jelas begitu? Ah, gara-gara mengikuti Saskia sampai ke sini, Reza jadi kena marah. Kalau begitu Saskia harus membantu menjelaskan persoalannya. Tapi gimana ngomongnya? Belum apa-apa udah dimarahin begini? Apalagi permohonan maaf Saskia tidak dijawabnya. “Ma, tadi Reza beneran makan di Mc. Donald kok, abis itu baru jalan-jalan ke sini.” Reza berusaha memberikan penjelasan, tapi bukan pengampunan yang didapatkannya, malah telinganya ditarik ke bawah. “Soalnya udah janjian kan, iya kan? Tambah nakal, tambah pinter bohong!” Sekali lagi ditariknya daun telinga itu ke bawah sampai Reza harus membungkuk untuk mengurangi rasa sakit. “Aduh, enggak Ma! Tadi Reza udah sms Mama kan?” erangan Reza membuat Saskia merinding mendengarnya. Tidak menyangka akan terjadi masalah seperti ini. “Sms apaan? Mama nggak bawa HP, kenapa masih disms juga? Bagus tante Lisa punya nomer kamu, kalo nggak ditelpon tadi mau ngilang sampe mana??!” nada bicaranya makin meninggi sementara jeweran tangannya makin merendah. “Aduh sakit, ampun Ma!” Reza berusaha lebih membungkuk lagi sampai hampir berjongkok. Aih, tak tega hati Saskia melihatnya. Bahkan wanita gemuk di sampingnya pun kebingungan dengan sikap temannya. “Nda, udah dong kasihan anakmu.” “Justru karena dia anakku makanya kudidik, kalo nggak dididik lebih kasihan lagi Lis!” “Iya, tapi...” tante Lisa pun bingung harus berkata apa, apalagi Saskia?? “Heh, kamu sengaja kan, mau nemuin pacar kamu? Sejak kapan kamu pacaran? Emangnya kamu udah kepingin kawin?? Mau jadi suami macem apa kamu, hah!” dihentakannya telinga yang sudah memerah itu. “Aduuh, sakit! Bukan pacar Ma, bukan!” teriak Reza berusaha menjauhkan telinganya. Tapi semakin ditariknya, semakin erat pula cengkraman jari-jari tangan mamanya. “Emangnya kamu pikir Mama ini bodoh!” dihentaknya sekali lagi sampai Reza meringis kesakitan, tapi belum dilepaskannya pula. Sesaat kemudian dengan geram dialihkannya pandangan pada Saskia yang masih berdiri mematung di samping Reza. “Heh, kamu ya, ini tante kasih nasihat.” katanya dengan mata tetap melotot. “I, iya Tante.” Setengah mati Saskia mempertahankan akal sehatnya. “Kamu masih pake baju sekolah gini pasti belum pulang kan? Tante tidak sudi punya menantu yang tidak disiplin, apalagi suka ngelayap!” Oops, nasihat macam apa itu? Nasihat atau makian?? Kepala Saskia makin panas dibuatnya, wuuuh... rasanya mau meledak! Kalau begini caranya, hmpf, Saskia pun bisa melakukannya! “Tante, kalo mau marah liat-liat dong! Memangnya siapa yang pacaran? Siapa juga yang mau jadi menantu-menantuan?” wups, waow, sepertinya Saskia kelepasan bicara. Kalimat bodoh itu membuat Reza, mamanya, maupun tante Lisa tertegun. Dan sebelum Reza bisa mencegahnya, Saskia sudah melontarkan kalimat berikutnya, “Tante juga perlu tahu yang sebenarnya, Reza itu nggak salah karena dia ke sini buat menolong saya. Seharusnya Tante bangga punya anak seperti dia.” kemarahan kembali mendesak air matanya keluar. “Kamu!” wanita itu melepaskan cengkraman di telinga anaknya dan hampir saja menampar Saskia, tapi diurungkannya. Lengannya tergantung di udara, nafasnya tertahan sejenak, matanya melihat dengan tajam pada mata Saskia. “Anak kurang ajar!” katanya lalu sambil menurunkan tangan. Jari-jarinya mengepal kuat. “Anaknya sudah ketemu, Bu?” tegur seorang satpam berseragam. “Oh, sudah Pak, ini anaknya sudah di sini.” jawab tante Lisa buru-buru. Satpam itu mengangguk, lalu meninggalkan mereka sambil mengamati Reza dengan heran. “Udah, kita pulang sekarang!” mama Reza mengemasi tas belanja dengan cepat, lalu memberikan kepada anaknya dengan kasar. “Aduh Lis, sorry ya? Jadi nggak enak sama kamu nih, tuyul ini bikin masalah terus.” “Udah nggak pa-pa Nda, kamu yang sabar ya?” jawab tante Lisa kalem. “Semogalah Lis, nggak tau sampe kapan ini tuyul baru bisa diatur.” ditariknya lengan Reza cepat-cepat, sambil berpaling sesaat kepada Saskia, “Suruh orang tua kamu didik anak yang bener!” Weks! Sakitnya hati Saskia demi mendengar kalimat terakhir itu. Mereka pergi meninggalkan kegusaran di hati Saskia, demikian juga dengan tante Lisa. Reza pergi dalam cengkraman tangan mamanya yang penuh amarah. Wajahnya kusut dan telinganya memerah. Bukan lagi wajah bahagia seperti beberapa menit yang lalu. Sejenak terjadi adu pandang antara Saskia dan tante Lisa, sebelum mata Saskia menjadi semakin panas dan berair. "Maafkan saya Tante, permisi." ucapnya pelan, lalu buru-buru pergi sambil mengelap matanya. "Sebentar, apa kamu Ella?" pertanyaan itu menghentikan langkah Saskia. Dibalikkannya badannya, melihat pada wajah penuh tanda tanya pada tante Lisa. "Bukan Tante, saya Saskia." "Oh, tante kira kamu yang namanya Ella. Ya udah." tante Lisa mengemasi barangnya lalu berbalik pergi. Saskia memandangi wanita itu pergi menjauh, setiap langkahnya menjadi sebuah pertimbangan. Perlukah melampiaskan rasa penasaran ini padanya? Jangan-jangan malah memancing keributan berikutnya? Tapi hati Saskia tidak tenang melihat Reza diperlakukan seperti itu, apalagi tante Lisa juga menyebut-nyebut nama Ella, apa maksudnya?? Perlahan Saskia mulai mengikuti tante Lisa, sambil menghitung jari-jarinya. Panggil, tidak, panggil, tidak, panggil? Tidak?? Aduuuh, panggil atau enggak nih??? Bruk! Saskia berhenti setelah menabrak sesuatu yang empuk dan berbunyi, “Wadaw!” “Eh, maaf. Tante, maafkan saya.” “Kamu mengikuti saya??” tante Lisa bertanya serius, wajah bulatnya memerah dan nampak tegang. Bersambung ke bagian 5 1 2 3 4 5 6 7  


No comments:

Post a Comment