01 February 2012

Typical Norwegian

CIRI KHAS ORANG NORWEGIA

Susah nih, ada orang Norwe nyuruh orang bukan Norwe, nulis tentang ciri khas orang Norwe? Haha, itulah tugas pertama semester ini. Gimana tuh, bedanya orang Norwe dengan bule-bule lain aja saya nggak ngeh betulan, gimana nulis ciri khasnya? Ya udahlah namanya juga ngerjain tugas ya ditulis sebisanya aja lagian kan udah dibahas dikit di kelas.

Lumayan lama saya bengong memikirkan ciri apa yang benar-benar khas? Apa yang beda? Kalau yang beda dengan orang Indo sih banyak, tapi apa itu khas Norwe nggak tau deh. Oke deh saya nulis tentang kegiatan sehari-hari aja biar nggak tambah pusing. Nggak perlu jauh-jauh membandingkan sistem pemerintahan, ketenagakerjaan, pengaturan pajak, tingkat kesejahteraan penduduknya, cerita rakyatnya, transportasi, sekolah, kesehatan, dll.

Bicara tentang hal sehari-hari, misalnya cuaca Norwe yang super sejuk, lumayan khas kan? Waktu saya datang pertama kali aja langsung kedinginan padahal lagi di puncak musim panas. Nah apalagi sekarang pas musim dingin gini makin terasa ke-Norwe-annya. Suhu sering di bawah nol derejat celcius membuat salju numpuk di mana-mana. Tidak heran kalau orang Norwe biasa banget hidup bersama dengan yang namanya salju. Hujan salju, nyekop salju, ketumpahan salju, kesandung atau keperosok salju, dll. Buat bola salju, boneka salju, rumah-rumahan, dll. Mulai dari yang main di pekarangan rumah, halaman sekolah sampai yang ke gunung-gunung.

Ada istilah, orang Norwegia dilahirkan dengan papan ski di kakinya. Itu ungkapan untuk menunjukkan betapa lumrahnya orang main ski. Mulai anak kecil, remaja, dewasa, bayi, orang hamil, nenek-nenek. Saya sih ngeri kalau lihat orang hamil atau yang membawa bayinya meluncur di perbukitan. Nggak percaya? Setidaknya ada dua cara yang pernah saya lihat untuk membawa bayi main ski: digendong di punggung atau ditidurkan di bak yang diikat dengan tali ke pinggang orang tuanya. Lalu meluncur, wuuuusss!! Edan. Itu dia ciri khasnya, dapat satu kan :D

Ciri lain saya rasakan pada awal kedatangan adalah, orang Norwe suka antri. Entah suka atau terbiasa atau terpaksa, yang pasti mereka nggak keberatan kalau harus menunggu demi mentaati aturan. Di kantor polisi, kantor pos, terminal bus, sampai di mall-mall dan di halte bus. Bahkan sopir-sopir juga otomatis berhenti kalau ada orang berdiri menghadap ke zebra cross. Pernah saya sampai sungkan, lha wong saya berdiri di dekat penyeberangan itu cuma lagi mikir, perlu nyebrang nggak ya? Semua mobil berhenti menunggu, yah jadilah saya nyebrang demi membayar sungkan tadi. Itu dulu, waktu masih culun. Sekarang sih tinggal kasih kode aja kayak tukang parkir nyuruh mobil maju.

Selain mentaati peraturan lalu lintas, orang Norwe juga biasanya mentaati peraturan lain. Sampai peraturan-peraturan tak tertulis alias tradisi atau cara hidup masyarakat mereka patuhi. Sepertinya mereka tidak ingin, atau tidak berani, atau tidak terpikir untuk keluar dari garis. Suasana jadi tenang dan damai, walaupun kadang saya lihat kejadian lucu karena itu. Misalnya, waktu saya lihat ada orang mengerjakan perbaikan jalan. Saat itu dia sedang duduk di dalam traktor akan meratakan gundukan pasir. Mulut traktor diturunkan, menciduk pasir, mengangkatnya, memutar traktor 180 derajat, lalu menurunkan mulut traktor, menumpahkan isinya. Mulut traktor kembali diangkat, memutar kembali 180 derajat, menurunkannya lagi, menciduk lagi, dan seterusnya mengulangi proses yang sama sampai beberapa kali selain sedikit maju mundur di sekitar situ. Kalau tukang di negaraku udah kelar dari tadi, pakai pacul :D

Kadang kan ada hal yang bisa lebih cepat dikerjakan tanpa mengikuti prosedur, tentu saja sepanjang kita tahu itu tidak melanggar hukum dan membahayakan orang lain, kenapa tidak? Itulah pendapat saya tentang ketaatan orang Norwe dalam mengikuti prosedur atau menggunakan teknologi.

Ciri khas lain yang saya temukan, mereka ini super pendiam dan suka menjaga jarak. Di tempat-tempat umum yang pernah saya datangi seperti di mall, kantor polisi, bahkan di bus kota dan halte-halte. Kalau antri ya antri aja, nggak pakai basa-basi atau tegur sapa. Kalau perlu duduk atau berdirinya jauh-jauh dari yang lain. Cara hidup seperti ini boleh dibilang individualis, tapi sebenarnya mereka sangat suka menolong dan juga suka ditolong. Nah bingung kan? Saya melihat itu dalam beberapa pengalaman. Asalkan salah satu mulai bicara, maka yang lain akan merespon dengan baik. Nah lo, apakah itu artinya? Saya berkesimpulan bahwa mereka sangat pemalu dan super sungkanan. Wehehe... point yang terakhir inilah yang akhirnya saya tulis di tugas essay pertama :D



No comments:

Post a Comment