03 March 2012

Kenapa guru suka ngasih PR?

Kenapa, kenapa? Lha coba ditanyakan pada guru masing-masing, apakah itu termasuk hobi atau kebiasaan? Padahal, dengan begitu kan menambah pekerjaan mengkoreksi beliau sendiri. Trus, kenapa guru-guru masih juga mau menyengsarakan diri sendiri dan orang lain?? Sebagai mahasiswa yang terus-terusan kena PR saya menderita!

Di perkuliahan yang sekarang saya jalani, setiap mata kuliah selalu memberikan PR dosis tinggi menurut saya. Entahlah buat mahasiswa lain yang otaknya masih segar mungkin ini biasa saja, tapi saya selalu kuwalahan. Apa karena saya udah terlalu tua ya? Haha langsung deh ngakak kalau ingat umur.

Hiburannya adalah, tidak harus mengerjakan semua PR itu. Untuk syarat boleh mengikuti ujian, kami harus mendapatkan kata ‘godkjent’ alias ‘approved’ sebanyak 8 kali dari 12 PR selama satu semester. Sampai minggu ini saya baru mengumpulkan 5 di kalkulus dan 6 di aljabar. Sempat menyerah 1 kali di kalkulus kemarin karena nggak berhasil menyelesaikannya sebelum batas akhir pengumpulan. Itu baru yang matematika dasar, 2 mata kuliah yang saya ambil sebagai ekstra. Bukan untuk dapat gelar, dan bukan juga demi hadiah. Nah lo, demi apa coba? Hehe.. boleh dibilang ini adalah bagian dari petualangan belajar. Biar genap 30 sks, beban yang sama dengan mahasiswa pada umumnya.

Pelajaran utama saya di NTNU adalah di kelas Bahasa Norwegia, PRnya juga banyak. Setiap minggu serasa ngos-ngosan ngejar deadline. Kami harus mengumpulkan 7 essay dan 1 tugas besar satu semester ini. Belum lagi PR harian yang merupakan bagian dari bahan kuliah, tiap kali ada pengumuman PR di website langsung panik. Ini belum selesai, itu belum selesai, udah datang lagi yang baru. Lha... lha... pak dosen, kenapa kau tega... itu nyanyian saya di kala senja :p

Sehubungan dengan cita-cita saya sebagai guru matematika, saya mencoba melihat dari sudut pandang beliau-beliau ini. Apakah yang akan saya lakukan kalau saya di posisi mereka? Ahaha... mungkin saya akan balas dendam dengan memberi PR lebih buuanyak lagi! Ya ampuuun... segeralah bertobat sebelum terlambat. Oke.. oke.. sekarang serius nih. Coba pikirkan: Guru capek mengajar, murid capek belajar, tentu semua ini karena ada sesuatu yang dituju. Saya harap sesuatu itu adalah sesuatu yang besar dan bernilai, biar semua jerih payah tidak menjadi sia-sia.

10 tahun yang akan datang (ini dalam bayangan saya lho), murid-murid SMP bertanya kepada saya, “Bu guru, kenapa PRnya banyak sekali? Setiap minggu kami harus mengerjakan 100 soal, ini bukan pembelajaran tapi penyiksaan!” Lalu saya pun terkejut, “Lho siapa yang suruh kalian mengerjakan 100 soal?” Mereka pun ikut terkejut, “Lho, kan Ibu yang ngasih minggu lalu?” Saya jadi garuk-garuk kepala, kenapa mereka ngerjain 100 soal? Padahal kan nggak harusmengerjakan semuanya? Oh, saya tahu di mana letak masalahnya. Saya ajak mereka melihat lagi aturan mengerjakan PR berikut ini: ‘Kerjakan sebaik mungkin, pilihlah soal setinggi mungkin untuk mengetahui berapa tinggi kemampuanmu. Untuk lolos sensor, kerjakan sedikitnya 10 soal dengan benar.’ “Oooh... iya lupa!” begitu teriak mereka lega. Saya pun lega, hahaha!

Ya, 10 tahun yang akan datang (sekali lagi, ini mimpi di siang bolong), saya ingin memberikan semacam ‘PR fleksibel’ kepada murid-murid saya. Tujuannya adalah untuk melatih kemampuan mereka, tapi saya buat fleksibel karena kemampuan mereka kan juga berbeda-beda. Jadi ya silahkan menyesuaikan diri, saya harap dengan begini bisa membantu murid menemukan hal-hal mana yang sudah mereka pahami dan mana yang belum. Seperti apakah PR fleksibel itu?

Seumpama saya sediakan 100 soal, akan saya bilang: Kalau soal 1a memang terlalu mudah ya tidak perlu meneruskan ke nomor 1b sampai 1j karena sama saja, jangan membuang waktu untuk sesuatu yang terlalu mudah. Langsung saja ke no 2a. Begitu pula kalau 2a ternyata juga terlalu mudah langsung saja lompat ke no 3a dan begitu seterusnya. Lompat, lompat lagi.

Pada saat kamu menemukan soal itu tidak lagi mudah, misalnya nomor 5a, berarti di situlah kamu perlu berlatih lebih serius. Cobalah kerjakan 5b, 5c, dan seterusnya sampai kamu merasa akrab dengan tipe masalah itu. Sebagian murid mungkin akan menemukan kesulitannya mulai soal nomor 5, atau 6, atau sebagian lagi baru menemukan kesulitan di nomor 10. Bukankah kemampuan tiap orang bisa beda? Maka latihannya pun perlu disesuaikan.

Dengan demikian, murid-murid yang lemah bisa berlatih dengan baik menguatkan pondasi, sedangkan yang lebih mampu tidak perlu terlalu bosan harus mengerjakan soal yang terlalu gampang.
Oke, sekarang kembali ke dunia nyata. Saya mau ngerjain PR dulu ya... selamat berakhir pekan :)


No comments:

Post a Comment