Itulah pertanyaan yang muncul ketika rasanya bosaaaan sekali belajar Bahasa Inggris. Kejenuhan itu terjadi pada tahun ke tiga belajar bahasa Inggris, tepatnya di kelas 2 SMP. Secara total saya belajar bahasa Inggris di bangku sekolah selama 7 tahun, plus 1 semester di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Ya, memang saya belajar, tapi tidak pernah bahagia melakukannya. Buat saya jauh lebih mudah dan menyenangkan belajar dengan angka dan perhitungan daripada harus menghafal banyak kata yang tidak bisa saya ingat lagi setelah ujian. Menghafal kata-kata asing itu saja sudah sangat sulit, apalagi harus merangkainya dengan aturan tertentu yang amat sangat tidak bisa dimengerti. Orang menyebutnya grammar, dan di dalamnya bertaburan banyak tenses.
Menyadari bahwa saya memang tidak berbakat dalam hal linguistik, maka saya memilih untuk tidak menghabiskan waktu sia-sia di sana. Asalkan bisa melalui ulangan harian sampai ujian akhir dengan nilai secukupnya saja, saya relakan sisanya. Toh Tuhan juga memberikan bakat yang berbeda-beda pada tiap orang, saya tidak perlu menghabiskan waktu sia-sia untuk berusaha mengembangkan sesuatu yang tidak pernah ada pada diri saya. Terdengar bagus bukan, untuk pemikiran seorang anak SMP?
Saat ini, sebagai orang dewasa saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam pemikiran itu. Bagaimana saya tahu bahwa Dia memberikan bakat A dan bukan B? Apakah saya sudah melalui proses yang sebenarnya hingga kesimpulan saya itu bisa dipertanggungjawabkan? Atau pada saat itu saya hanya sedang menghindari sesuatu yang tidak saya sukai, lalu untuk memperkuat argumentasi itu saya pakai nama Tuhan.
Di SMA pun, kelas Bahasa langsung saya eliminasi dari pilihan program studi tahun ke tiga sehingga pilihan saya antara IPA atau IPS saja. Saat itu saya sangat yakin bahwa saya tidak akan pernah bisa belajar bahasa! Sudah bisa ditebak bahwa saya tidak akan mengambil kuliah di jurusan bahasa. Jurusan yang menjadi pilihan pertama pada saat UMPTN adalah Matematika, sedangkan yang ke dua, ya Matematika juga :p
Semester pertama di bangku perkuliahan masih harus belajar bahasa Inggris sebagai mata kuliah wajib. Hm... seandainya bukan wajib sudah pasti saya eliminasi juga. Sepertinya itu adalah saat-saat terakhir saya bertemu dengan bahasa Inggris dan akan segera mengucapkan salam perpisahan selamanya. Saya tidak ingin menjadi ahli bahasa Inggris, juga tidak akan bekerja di perusahaan asing. Tidak punya teman orang asing dan tidak berencana rekreasi ke luar negeri.
Saya hanya berencana akan hidup normal seperti kebanyakan orang lain di Indonesia. Sejauh yang saya amati sampai hari itu, semua orang bisa hidup normal walaupun tidak bisa berbahasa Inggris. Dan memang betul, semuanya berjalan baik-baik saja, hingga suatu hari saya membutuhkannya.
Aha, kapankah saya membutuhkan Bahasa Inggris? Ini dia:
Mulailah saya mencari bantuan ke sana ke mari sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Dalam tes penempatan, nilai saya sangat rendah sampai harus memulai dari kelas paling dasar alias level 0 yang belajar: This is a pen, this is a book, dst. Kasihan deh! Lama sekali sampai setengah tahun saya baru masuk di level 2 dengan kalimat-kalimat sederhana. OMG, kebutuhan saya membaca buku teks kuliah tidak terpenuhi dengan cara itu dan saya putuskan untuk berhenti kursus.
Sekali lagi saya memperkuat keyakinan bahwa saya tidak mungkin bisa belajar bahasa asing itu. Lupakan saja! Dan benar, saya melupakannya sampai selesai S1, semuanya bisa dikatakan baik-baik saja hingga babak berikutnya dalam hidup saya: mencari kerja.
Singkat cerita karena sekolah membutuhkan seorang staf marketing, beliau mengijinkan saya mencobanya sambil mempersiapkan diri belajar Bahasa Inggris. Harapannya adalah, dengan mengenal sekolah dan bergaul dengan guru maupun murid, suatu saat nanti saya siap dan bisa mengajar sebagai guru.
Saya sangat menghargai kesempatan yang beliau berikan, tapi nampaknya itu tidak berjalan mulus. Jangankan untuk mempersiapkan diri mengajar di kelas, sedangkan dalam percakapan sehari-hari saja saya tak mampu.
Misalnya suatu hari saya memakai sandal jepit ke sekolah karena kaki saya luka, lalu seorang guru bertanya apa yang terjadi dengan kaki saya. Satu katapun tidak bisa keluar dari mulut saya, sama sekali tidak ada ide bagaimana mengatakan: “Tadi pagi saya jatuh ke got dan telapak kaki saya sobek.” Hm, betapa rumitnya memikirkan bagaimana mengatakan selokan dalam Bahasa Inggris? Jatuh? Telapak kaki? Sobek? Terlalu banyak kata dalam kalimat itu, dan saya tidak bisa menjawab. Hanya bisa tersenyum gagap sambil menunjukkan luka, tanpa penjelasan apa-apa, dan si bapak guru itu pun nyengir tanda memaklumi.
Contoh lain yang berkesan adalah ketika seorang guru masuk ke ruangan saya untuk minta sesuatu. Dari nada bicaranya saya tahu dia minta sesuatu, tapi saya tidak mengerti apa yang diminta. Dia berusaha menggambarkan benda yang dibutuhkannya dengan gerakan tangan, tetap saya tidak mengerti dan saya berikan kode gerakan tangan pula untuk mencari sendiri apa yang dibutuhkannya. Dia mencari-cari beberapa saat lalu menyerah dan berpamitan. Saya turut menyesal dia tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Tapi ternyata dia kembali lagi ke ruangan saya bersama dengan seorang staf dari ruangan lain yang langsung berkata, “Rosa, dia minta kertas A4 ada nggak?” “Oh, kertas A4, ada bu.” saya ambilkan satu pak A4 di bawah meja, kami semua tertawa lega, sekaligus menertawakan kejadian konyol itu.
Kehidupan kerja yang seharusnya sederhana bagi orang lain, terasa sangat rumit bagi saya. Terlalu banyak masalah yang tidak bisa saya selesaikan dan tidak bisa saya tanggung, juga terlalu jauh bagi saya bermimpi jadi guru matematika di sekolah internasional. Saya hanya ingin jadi guru matematika di sekolah biasa saja, yang tidak perlu berbahasa Inggris, dan sekali lagi saya tidak ingin membuang terlalu banyak waktu untuk mengusahakan apa yang tidak seharusnya saya kerjakan. Maka saya berusaha mencari sekolah lain.
Di sekolah yang baru saja berdiri ini, saya mendapatkan training selama 6 minggu bersama tiga orang lainnya. Dari kami berempat akan diambil 2 orang untuk guru di kelas pre-elementary alias persiapan masuk SD, alias TK C. Setelah 6 minggu, tahulah hasilnya sudah bisa ditebak, saya tidak lolos. Saya tahu memang tidak akan lolos mengingat pengajaran diberikan dalam Bahasa Inggris. Tapi kan ini TK? Oh... untuk mengajar TK pun saya tak mampu.
Sekolah memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja di departemen kurikulum dalam proses pembuatan bahan pelajaran. Di sinilah saya bertemu lagi dengan Bahasa Inggris dalam hal membaca dan menulis, sedangkan komunikasi dengan rekan kerja tetap dilakukan dalam Bahasa Indonesia.
Pekerjaan itu berjalan dengan baik, tapi saya sungguh berharap entah tahun depan atau depannya lagi saya bisa benar-benar mencapai cita-cita menjadi guru matematika, sebab saat itu juga pihak yayasan sedang mempersiapkan sebuah SD. Mungkin itulah saatnya saya memperbaiki yang rusak, menambal yang robek, menambahkan yang kurang.
Terlibat dalam proses pembuatan buku pelajaran membantu saya meningkatkan jumlah kosakata, tapi merangkai kata-kata menjadi kalimat adalah masalah tersendiri. Entahlah apa yang harus dilakukan, mungkinkah memang saya tidak akan pernah bisa berbahasa Inggris? Mungkin hanya seperti itulah yang bisa saya lakukan.
Sekali dua kali terlintas pikiran untuk meninggalkan sekolah itu dan mencari sekolah lain. Surabaya adalah kota besar, ada banyak sekolah di sana. Mungkin masih ada kesempatan buat saya? Sekolah biasa saja, tidak perlu yang berbahasa Inggris. Saya tidak perlu menjadi guru yang sangat hebat di sekolah yang sangat hebat. Cita-cita saya sederhana saja, ingin berbagi kenikmatan belajar matematika kepada murid-murid sekolah yang seringkali memandang matematika sebagai sesuatu yang menakutkan, sulit dan tidak dapat dimengerti.
Pikir punya pikir, sepertinya tidak baik terlalu sering berpindah pekerjaan. Saya mencoba bertahan sampai datang suatu kesempatan masuk kelas sebagai guru bantu. Saat itu tahun ke dua bekerja di sekolah itu, saya ditugaskan mendampingi anak-anak kelas 1 SD mengerjakan soal matematika dan sains selama dua jam, dua kali dalam seminggu. Walaupun tidak harus banyak bicara di kelas, tetap saja saya grogi. Tapi sungguh, di tengah ketegangan itu saya rasakan sukacita luar biasa berada di antara mereka.
Saya bukan guru, saya sadar itu, saya cuma asisten. Tapi setidaknya saya sudah sedikit mencicipi suasana kelas dan mulai bisa membayangkan seandainya saya jadi guru harus bagaimana. Sungguh-sungguh berharap, sangat-sangat besar harapan itu. Sayang, posisi itu hanya bisa saya nikmati selama 1 semester saja dan saya kembali berkonsentrasi dengan pekerjaan asli saya di kantor kurikulum. Yah, mungkin belum saatnya, mungkin saya memang harus bersabar dan belajar lebih lama lagi.
Dalam masa penantian itu datanglah seorang yang tidak terduga dalam hidup saya, seorang cowok keren yang membuat saya tidak bisa berkata tidak padanya. Saya dapat pacar! Untuk pertama kali dalam hidup saya pacaran!! Singkat cerita, dua tahun berikutnya kami resmi menikah dan lima bulan setelah itu kami berangkat ke Eropa utara. Di sanalah petualangan baru dimulai.
Itu bukanlah waktu yang singkat, bagaimana saya akan melewatkan waktu sepanjang itu jika tidak bisa berbahasa Inggris? Bisa saja, mungkin, kalau saya hanya bicara pada suami di rumah. Tapi itu tidak mungkin, saya tidak ingin membuang waktu untuk sesuatu yang akan saya sesali di masa yang akan datang. Menurut suami, sebaiknya saya juga melanjutkan studi karena itu akan memperlengkapi bekal sebagai guru nantinya. Saya sangat setuju dengan ide itu, tapi... tahukah Anda bahwa itu terdengar mustahil bagi saya?
Tapi baiklah, saya akan mencoba yang terbaik. Di antara kesibukan mengurus dokumentasi pernikahan, pindah status kependudukan ke Surabaya, dan ijin masuk ke Norwegia, saya mencoba kembali belajar Bahasa Inggris. Sementara suami saya pun sibuk menyelesaikan tanggung jawabnya di universitas tempat dia mengajar dan dokumentasi kepemilikan rumah yang kami tempati saat itu. Kami adalah pengantin baru yang super sibuk!
Beberapa bahan pelajaran dari internet sudah saya cetak dengan memanfaatkan printer kakak ipar, bahkan saya jilid rapi dengan kawat. Bagus dan kuat, saya siap belajar dengan beberapa buku itu. Tapi... oh... bukankah manusiawi jika saya katakan itu tetap sulit? Saya sungguh tak tahan melihat tulisan-tulisan di buku itu. Kalimat-kalimat yang tidak bisa dimengerti, hampir untuk setiap kalimat saya harus membuka kamus. Rasanya bodoh sekali, jenuh, putus asa. Lalu mengisi waktu dengan menulis cerita fiksi sebagai hobi lama.
Saya keluhkan itu pada suami, dan dia katakan juga memang hal itu tidak mudah. Tidak perlu memaksakan diri saat ini di tengah segala kesibukan persiapan keberangkatan, nanti setelah tiba di sana masih ada kesempatan untuk belajar dan kemungkinan untuk mempraktekkan juga lebih besar. Itu membuat saya tenang dan lebih menikmati hari-hari di mana saya masih bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman.
Tapi benarkah learning by doing itu lebih mudah? Oh, sesungguhnya, itu pun tetap tidak mudah bagi saya. Hal itu sudah dimulai dalam perjalanan berangkat, minta air minum ke pramugari saja saya minta dia yang bicara. Apa jadinya nanti di negeri orang? Hampir bisa dipastikan saya akan sangat bergantung padanya.
Istri bergantung pada suami, siapa yang melarang? Tapi jika bergantungnya sudah keterlaluan, saya pikir saya lebih pantas jadi anaknya saja daripada jadi istrinya. Itu tidak benar!
Saya coba, misalnya, pergi belanja sendiri. Toh tinggal ambil barang di rak, bawa ke kasir, lalu jumlahnya akan tertera di layar monitor mereka. Tidak perlu mengatakan apa-apa, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ternyata itu pun tidak berjalan mulus. Beberapa kali saya salah membeli barang. Maunya beli garam malah beli pengembang kue, maunya gula pasir malah ambil gula bubuk, maunya tepung terigu malah jadinya beli havermut. Semua itu karena malu bertanya!
Oops, saya bukan sekedar malu bertanya, tapi juga tidak tahu caranya bertanya. Hal sepele yang biasanya begitu mudah di Surabaya sekarang menjadi tidak mudah lagi, karena saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saya kesepian!
Perasaan kesepian itu terhibur setelah bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Berarti selain dengan suami, saya bisa berkomunikasi dengan orang lain. Itu bagus! Enak! Nyaman! Lancar! Apalagi ya... manja! Ya, itu namanya manja. Tidak menyelesaikan masalah karena sudah mendapatkan tempat yang nyaman untuk melarikan diri dari masalah. Baiklah, mari mencari keseimbangan dalam hal ini.
Sebagai makhluk sosial saya tidak bisa terus-terusan membisu di tengah keramaian, saya perlu bertemu dengan orang lain yang bisa berkomunikasi dengan saya. Tetapi saya pun harus menjaga keseimbangan agar kenyamanan itu tidak membuat saya terlena dan menutup diri pada lingkungan. Hm... apa masalahnya jika saya tidak melakukannya?
Masalahnya adalah, saya akan hidup di dunia lain. Tidak tahu dan akan menjadi tidak peduli tentang apa yang terjadi di sekitar. Ibadah di gereja, misalnya. Minggu pertama beribadah di gereja lokal adalah atas ajakan teman Indonesia, wow... mereka bicara bahasa aneh bin ajaib. Itulah pertama kalinya saya mendengar dengan seksama Bahasa Norwegia, dan tidak menangkap apa-apa. Ada layanan terjemahan yang bisa didengar melalui headset, tapi tentu saja itu bukan Bahasa Indonesia. Bisa Anda terka, mereka menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Jadi ya tetap saja, serasa butuh satu penerjemah lagi.
Hari minggu berikutnya kami pergi ke gereja cabang Inggris untuk menghindari mendengar dua bahasa asing sekaligus. Mendengar dalam Bahasa Inggris saja tanpa ada suara lain terasa lebih simpel, seperti biasanya nonton film Hollywood. Tapi bedanya, kalau nonton TV ada teks terjemahan sedangkan ini tidak ada! Jadi ya tetap saja saya kesulitan mengikuti ibadah. Jangankan mengerti kotbah pendetanya, sedangkan kalimat sederhana saja saya tidak mengerti. Sesederhana ini: mari kita menyanyikan lagu nomor 243, mari kita berdoa, siapa yang baru datang pertama kali? Bahkan anak-anak balita pun mengerti ketika diberi instruksi untuk berdiri atau duduk atau berkumpul. Suami saya mencoba menghibur dan memberi semangat dengan cerita masa lalunya ketika menempuh studi di Inggris. Beberapa bulan pertama memang sangat sulit memahami orang bicara karena logat mereka sangat berbeda.
Terlalu banyak hal-hal konyol yang terjadi selama saya berkeyakinan bahwa saya tidak mungkin bisa Bahasa Inggris. Anda yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan dengan hal-hal bodoh yang saya sebutkan sejak awal. Baiklah untuk mempersingkat cerita, langsung saja saya katakan bahwa Bahasa Inggris memang sulit, tapi bukannya tidak mungkin dipelajari. Masalahnya adalah, bagaimana caranya?
Prinsip yang saya pikir berlaku secara umum pada saat belajar apapun: yakin bahwa apa yang saya pelajari ini penting dan saya memerlukannya entah sekarang atau nanti. Dalam hal belajar Bahasa Inggris saya tidak menemukan kepentingannya sampai saya menghadapi kesulitan membaca buku teks di universitas, sungguh terlambat. Seandainya saja saya mengetahui pentingnya ketika masih SMP, mungkin keadaan akan berbeda, mungkin saya akan belajar lebih keras di mata pelajaran yang satu ini.
Tapi menyesal saja tidak berguna jika tidak ada tindak lanjut. Maka, lanjutkan! Apakah semudah mengatakannya? Sama sekali tidak, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya bahwa upaya perbaikan yang saya lakukan dengan masuk ke kursus bahasa pun nampak tidak menolong karena saat itu kebutuhan saya sudah sangat mendesak, yaitu membaca buku teks tingkat universitas. Ibarat penyakitan, kondisi saya sudah akut. Seharusnya saya mendapatkan pengobatan yang lebih intensif, tapi eh malah saya meninggalkan kursus karena putus asa.
Sekedar berbagi rasa, tanpa bermaksud mengeluh, perlu saya katakan bahwa kuliah matematika saya tidak berjalan dengan mulus karena satu dan lain hal yang salah satunya adalah kesulitan membaca buku teks. Apakah itu membuat saya jera dan segera berbenah? Saya selalu gagal dan gagal lagi dalam membangun motivasi belajar Bahasa Inggris. Sejak sekolah sampai masuk ke dunia kerja tak henti-hentinya saya dihajar dengan kesulitan karena masalah yang satu ini.
Saat menulis cerita ini, saya telah menempuh satu tahun dua bulan hidup di tanah rantau. Motivasi berhasil tumbuh karena terdesak kebutuhan hidup, yaitu ingin melanjutkan sekolah dan kebutuhan bersosialisasi. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang menuntun langkah hidup saya sampai sejauh ini. Saya anak bandel yang sudah seringkali ditegur dengan kesulitan dan kegagalan selama bertahun-tahun tapi tidak segera bertekun memperbaikinya.
Saat ini, saya sedang terus belajar dan meyakini bahwa ini memang penting. Jadi jangan heran ya kalau saya suka nge-blog dengan Bahasa Inggris, karena ini adalah arena belajar saya. Sebenarnya masih banyaaaaak sekali yang ingin saya tuliskan, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang. Lain kali saya akan tuliskan apa yang sudah terjadi dalam setahun ini, berkaitan dengan belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Norwegia. Pastinya banyak kejadian konyol, tak apa, biarlah dunia tertawa karena itu. Barangkali cerita ini menginspirasi orang lain? Ayo semangat belajar rek!
Ya, memang saya belajar, tapi tidak pernah bahagia melakukannya. Buat saya jauh lebih mudah dan menyenangkan belajar dengan angka dan perhitungan daripada harus menghafal banyak kata yang tidak bisa saya ingat lagi setelah ujian. Menghafal kata-kata asing itu saja sudah sangat sulit, apalagi harus merangkainya dengan aturan tertentu yang amat sangat tidak bisa dimengerti. Orang menyebutnya grammar, dan di dalamnya bertaburan banyak tenses.
Menyadari bahwa saya memang tidak berbakat dalam hal linguistik, maka saya memilih untuk tidak menghabiskan waktu sia-sia di sana. Asalkan bisa melalui ulangan harian sampai ujian akhir dengan nilai secukupnya saja, saya relakan sisanya. Toh Tuhan juga memberikan bakat yang berbeda-beda pada tiap orang, saya tidak perlu menghabiskan waktu sia-sia untuk berusaha mengembangkan sesuatu yang tidak pernah ada pada diri saya. Terdengar bagus bukan, untuk pemikiran seorang anak SMP?
Saat ini, sebagai orang dewasa saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam pemikiran itu. Bagaimana saya tahu bahwa Dia memberikan bakat A dan bukan B? Apakah saya sudah melalui proses yang sebenarnya hingga kesimpulan saya itu bisa dipertanggungjawabkan? Atau pada saat itu saya hanya sedang menghindari sesuatu yang tidak saya sukai, lalu untuk memperkuat argumentasi itu saya pakai nama Tuhan.
Di SMA pun, kelas Bahasa langsung saya eliminasi dari pilihan program studi tahun ke tiga sehingga pilihan saya antara IPA atau IPS saja. Saat itu saya sangat yakin bahwa saya tidak akan pernah bisa belajar bahasa! Sudah bisa ditebak bahwa saya tidak akan mengambil kuliah di jurusan bahasa. Jurusan yang menjadi pilihan pertama pada saat UMPTN adalah Matematika, sedangkan yang ke dua, ya Matematika juga :p
Semester pertama di bangku perkuliahan masih harus belajar bahasa Inggris sebagai mata kuliah wajib. Hm... seandainya bukan wajib sudah pasti saya eliminasi juga. Sepertinya itu adalah saat-saat terakhir saya bertemu dengan bahasa Inggris dan akan segera mengucapkan salam perpisahan selamanya. Saya tidak ingin menjadi ahli bahasa Inggris, juga tidak akan bekerja di perusahaan asing. Tidak punya teman orang asing dan tidak berencana rekreasi ke luar negeri.
Saya hanya berencana akan hidup normal seperti kebanyakan orang lain di Indonesia. Sejauh yang saya amati sampai hari itu, semua orang bisa hidup normal walaupun tidak bisa berbahasa Inggris. Dan memang betul, semuanya berjalan baik-baik saja, hingga suatu hari saya membutuhkannya.
Aha, kapankah saya membutuhkan Bahasa Inggris? Ini dia:
1. membaca buku teksPada pertengahan perkuliahan saya mulai kuwalahan mencari buku teks berbahasa Indonesia. Banyak sekali buku teks kuliah yang bagus di perpustakaan kampus, tapi sayang sebagian besar belum diterjemahkan. Untuk membaca satu halaman saja butuh waktu berjam-jam karena terlalu banyak kata yang saya tidak mengerti dan setelah menerjemahkan kata demi kata pun saya belum paham makna dari rangkaian kata-kata itu. Sebagai catatan, saat itu belum ada google translator.
Mulailah saya mencari bantuan ke sana ke mari sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Dalam tes penempatan, nilai saya sangat rendah sampai harus memulai dari kelas paling dasar alias level 0 yang belajar: This is a pen, this is a book, dst. Kasihan deh! Lama sekali sampai setengah tahun saya baru masuk di level 2 dengan kalimat-kalimat sederhana. OMG, kebutuhan saya membaca buku teks kuliah tidak terpenuhi dengan cara itu dan saya putuskan untuk berhenti kursus.
Sekali lagi saya memperkuat keyakinan bahwa saya tidak mungkin bisa belajar bahasa asing itu. Lupakan saja! Dan benar, saya melupakannya sampai selesai S1, semuanya bisa dikatakan baik-baik saja hingga babak berikutnya dalam hidup saya: mencari kerja.
2. komunikasi dengan rekan kerjaPekerjaan impian saya adalah menjadi guru matematika. Sekian banyak lamaran saya kirimkan secara gencar ke sekolah-sekolah di segala penjuru kota kelahiran saya, tapi tak satupun peluang terbuka. Hingga suatu hari, seorang teman memperkenalkan saya pada temannya yang mengelola sebuah sekolah internasional. Tentu saja saya sudah pernah nekad mengirim lamaran ke sana, dan tidak ada respon. Sesuatu yang wajar.
Singkat cerita karena sekolah membutuhkan seorang staf marketing, beliau mengijinkan saya mencobanya sambil mempersiapkan diri belajar Bahasa Inggris. Harapannya adalah, dengan mengenal sekolah dan bergaul dengan guru maupun murid, suatu saat nanti saya siap dan bisa mengajar sebagai guru.
Saya sangat menghargai kesempatan yang beliau berikan, tapi nampaknya itu tidak berjalan mulus. Jangankan untuk mempersiapkan diri mengajar di kelas, sedangkan dalam percakapan sehari-hari saja saya tak mampu.
Misalnya suatu hari saya memakai sandal jepit ke sekolah karena kaki saya luka, lalu seorang guru bertanya apa yang terjadi dengan kaki saya. Satu katapun tidak bisa keluar dari mulut saya, sama sekali tidak ada ide bagaimana mengatakan: “Tadi pagi saya jatuh ke got dan telapak kaki saya sobek.” Hm, betapa rumitnya memikirkan bagaimana mengatakan selokan dalam Bahasa Inggris? Jatuh? Telapak kaki? Sobek? Terlalu banyak kata dalam kalimat itu, dan saya tidak bisa menjawab. Hanya bisa tersenyum gagap sambil menunjukkan luka, tanpa penjelasan apa-apa, dan si bapak guru itu pun nyengir tanda memaklumi.
Contoh lain yang berkesan adalah ketika seorang guru masuk ke ruangan saya untuk minta sesuatu. Dari nada bicaranya saya tahu dia minta sesuatu, tapi saya tidak mengerti apa yang diminta. Dia berusaha menggambarkan benda yang dibutuhkannya dengan gerakan tangan, tetap saya tidak mengerti dan saya berikan kode gerakan tangan pula untuk mencari sendiri apa yang dibutuhkannya. Dia mencari-cari beberapa saat lalu menyerah dan berpamitan. Saya turut menyesal dia tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Tapi ternyata dia kembali lagi ke ruangan saya bersama dengan seorang staf dari ruangan lain yang langsung berkata, “Rosa, dia minta kertas A4 ada nggak?” “Oh, kertas A4, ada bu.” saya ambilkan satu pak A4 di bawah meja, kami semua tertawa lega, sekaligus menertawakan kejadian konyol itu.
Kehidupan kerja yang seharusnya sederhana bagi orang lain, terasa sangat rumit bagi saya. Terlalu banyak masalah yang tidak bisa saya selesaikan dan tidak bisa saya tanggung, juga terlalu jauh bagi saya bermimpi jadi guru matematika di sekolah internasional. Saya hanya ingin jadi guru matematika di sekolah biasa saja, yang tidak perlu berbahasa Inggris, dan sekali lagi saya tidak ingin membuang terlalu banyak waktu untuk mengusahakan apa yang tidak seharusnya saya kerjakan. Maka saya berusaha mencari sekolah lain.
3. di tempat kerja yang lainKali ke dua saya memberanikan diri pergi ke luar kota, sekalipun berat rasanya hati ini meninggalkan kampung halaman (prikitiw!) Dengan jalan baru yang saya tempuh ini berarti hanya bisa pulang ke rumah pada akhir pekan saja.
Di sekolah yang baru saja berdiri ini, saya mendapatkan training selama 6 minggu bersama tiga orang lainnya. Dari kami berempat akan diambil 2 orang untuk guru di kelas pre-elementary alias persiapan masuk SD, alias TK C. Setelah 6 minggu, tahulah hasilnya sudah bisa ditebak, saya tidak lolos. Saya tahu memang tidak akan lolos mengingat pengajaran diberikan dalam Bahasa Inggris. Tapi kan ini TK? Oh... untuk mengajar TK pun saya tak mampu.
Sekolah memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja di departemen kurikulum dalam proses pembuatan bahan pelajaran. Di sinilah saya bertemu lagi dengan Bahasa Inggris dalam hal membaca dan menulis, sedangkan komunikasi dengan rekan kerja tetap dilakukan dalam Bahasa Indonesia.
Pekerjaan itu berjalan dengan baik, tapi saya sungguh berharap entah tahun depan atau depannya lagi saya bisa benar-benar mencapai cita-cita menjadi guru matematika, sebab saat itu juga pihak yayasan sedang mempersiapkan sebuah SD. Mungkin itulah saatnya saya memperbaiki yang rusak, menambal yang robek, menambahkan yang kurang.
Terlibat dalam proses pembuatan buku pelajaran membantu saya meningkatkan jumlah kosakata, tapi merangkai kata-kata menjadi kalimat adalah masalah tersendiri. Entahlah apa yang harus dilakukan, mungkinkah memang saya tidak akan pernah bisa berbahasa Inggris? Mungkin hanya seperti itulah yang bisa saya lakukan.
Sekali dua kali terlintas pikiran untuk meninggalkan sekolah itu dan mencari sekolah lain. Surabaya adalah kota besar, ada banyak sekolah di sana. Mungkin masih ada kesempatan buat saya? Sekolah biasa saja, tidak perlu yang berbahasa Inggris. Saya tidak perlu menjadi guru yang sangat hebat di sekolah yang sangat hebat. Cita-cita saya sederhana saja, ingin berbagi kenikmatan belajar matematika kepada murid-murid sekolah yang seringkali memandang matematika sebagai sesuatu yang menakutkan, sulit dan tidak dapat dimengerti.
Pikir punya pikir, sepertinya tidak baik terlalu sering berpindah pekerjaan. Saya mencoba bertahan sampai datang suatu kesempatan masuk kelas sebagai guru bantu. Saat itu tahun ke dua bekerja di sekolah itu, saya ditugaskan mendampingi anak-anak kelas 1 SD mengerjakan soal matematika dan sains selama dua jam, dua kali dalam seminggu. Walaupun tidak harus banyak bicara di kelas, tetap saja saya grogi. Tapi sungguh, di tengah ketegangan itu saya rasakan sukacita luar biasa berada di antara mereka.
Saya bukan guru, saya sadar itu, saya cuma asisten. Tapi setidaknya saya sudah sedikit mencicipi suasana kelas dan mulai bisa membayangkan seandainya saya jadi guru harus bagaimana. Sungguh-sungguh berharap, sangat-sangat besar harapan itu. Sayang, posisi itu hanya bisa saya nikmati selama 1 semester saja dan saya kembali berkonsentrasi dengan pekerjaan asli saya di kantor kurikulum. Yah, mungkin belum saatnya, mungkin saya memang harus bersabar dan belajar lebih lama lagi.
Dalam masa penantian itu datanglah seorang yang tidak terduga dalam hidup saya, seorang cowok keren yang membuat saya tidak bisa berkata tidak padanya. Saya dapat pacar! Untuk pertama kali dalam hidup saya pacaran!! Singkat cerita, dua tahun berikutnya kami resmi menikah dan lima bulan setelah itu kami berangkat ke Eropa utara. Di sanalah petualangan baru dimulai.
4. hidup di tanah rantauSesuatu yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, pergi ke negeri yang jauh dan Bahasa Indonesia mungkin tidak begitu populer di sana. Berarti saya perlu mempersiapkan diri dengan Bahasa Inggris karena kami akan tinggal di Norwegia sedikitnya 4 tahun selama suami menempuh studi.
Itu bukanlah waktu yang singkat, bagaimana saya akan melewatkan waktu sepanjang itu jika tidak bisa berbahasa Inggris? Bisa saja, mungkin, kalau saya hanya bicara pada suami di rumah. Tapi itu tidak mungkin, saya tidak ingin membuang waktu untuk sesuatu yang akan saya sesali di masa yang akan datang. Menurut suami, sebaiknya saya juga melanjutkan studi karena itu akan memperlengkapi bekal sebagai guru nantinya. Saya sangat setuju dengan ide itu, tapi... tahukah Anda bahwa itu terdengar mustahil bagi saya?
Tapi baiklah, saya akan mencoba yang terbaik. Di antara kesibukan mengurus dokumentasi pernikahan, pindah status kependudukan ke Surabaya, dan ijin masuk ke Norwegia, saya mencoba kembali belajar Bahasa Inggris. Sementara suami saya pun sibuk menyelesaikan tanggung jawabnya di universitas tempat dia mengajar dan dokumentasi kepemilikan rumah yang kami tempati saat itu. Kami adalah pengantin baru yang super sibuk!
Beberapa bahan pelajaran dari internet sudah saya cetak dengan memanfaatkan printer kakak ipar, bahkan saya jilid rapi dengan kawat. Bagus dan kuat, saya siap belajar dengan beberapa buku itu. Tapi... oh... bukankah manusiawi jika saya katakan itu tetap sulit? Saya sungguh tak tahan melihat tulisan-tulisan di buku itu. Kalimat-kalimat yang tidak bisa dimengerti, hampir untuk setiap kalimat saya harus membuka kamus. Rasanya bodoh sekali, jenuh, putus asa. Lalu mengisi waktu dengan menulis cerita fiksi sebagai hobi lama.
Saya keluhkan itu pada suami, dan dia katakan juga memang hal itu tidak mudah. Tidak perlu memaksakan diri saat ini di tengah segala kesibukan persiapan keberangkatan, nanti setelah tiba di sana masih ada kesempatan untuk belajar dan kemungkinan untuk mempraktekkan juga lebih besar. Itu membuat saya tenang dan lebih menikmati hari-hari di mana saya masih bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman.
Tapi benarkah learning by doing itu lebih mudah? Oh, sesungguhnya, itu pun tetap tidak mudah bagi saya. Hal itu sudah dimulai dalam perjalanan berangkat, minta air minum ke pramugari saja saya minta dia yang bicara. Apa jadinya nanti di negeri orang? Hampir bisa dipastikan saya akan sangat bergantung padanya.
Istri bergantung pada suami, siapa yang melarang? Tapi jika bergantungnya sudah keterlaluan, saya pikir saya lebih pantas jadi anaknya saja daripada jadi istrinya. Itu tidak benar!
Saya coba, misalnya, pergi belanja sendiri. Toh tinggal ambil barang di rak, bawa ke kasir, lalu jumlahnya akan tertera di layar monitor mereka. Tidak perlu mengatakan apa-apa, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ternyata itu pun tidak berjalan mulus. Beberapa kali saya salah membeli barang. Maunya beli garam malah beli pengembang kue, maunya gula pasir malah ambil gula bubuk, maunya tepung terigu malah jadinya beli havermut. Semua itu karena malu bertanya!
Oops, saya bukan sekedar malu bertanya, tapi juga tidak tahu caranya bertanya. Hal sepele yang biasanya begitu mudah di Surabaya sekarang menjadi tidak mudah lagi, karena saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saya kesepian!
Perasaan kesepian itu terhibur setelah bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Berarti selain dengan suami, saya bisa berkomunikasi dengan orang lain. Itu bagus! Enak! Nyaman! Lancar! Apalagi ya... manja! Ya, itu namanya manja. Tidak menyelesaikan masalah karena sudah mendapatkan tempat yang nyaman untuk melarikan diri dari masalah. Baiklah, mari mencari keseimbangan dalam hal ini.
Sebagai makhluk sosial saya tidak bisa terus-terusan membisu di tengah keramaian, saya perlu bertemu dengan orang lain yang bisa berkomunikasi dengan saya. Tetapi saya pun harus menjaga keseimbangan agar kenyamanan itu tidak membuat saya terlena dan menutup diri pada lingkungan. Hm... apa masalahnya jika saya tidak melakukannya?
Masalahnya adalah, saya akan hidup di dunia lain. Tidak tahu dan akan menjadi tidak peduli tentang apa yang terjadi di sekitar. Ibadah di gereja, misalnya. Minggu pertama beribadah di gereja lokal adalah atas ajakan teman Indonesia, wow... mereka bicara bahasa aneh bin ajaib. Itulah pertama kalinya saya mendengar dengan seksama Bahasa Norwegia, dan tidak menangkap apa-apa. Ada layanan terjemahan yang bisa didengar melalui headset, tapi tentu saja itu bukan Bahasa Indonesia. Bisa Anda terka, mereka menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Jadi ya tetap saja, serasa butuh satu penerjemah lagi.
Hari minggu berikutnya kami pergi ke gereja cabang Inggris untuk menghindari mendengar dua bahasa asing sekaligus. Mendengar dalam Bahasa Inggris saja tanpa ada suara lain terasa lebih simpel, seperti biasanya nonton film Hollywood. Tapi bedanya, kalau nonton TV ada teks terjemahan sedangkan ini tidak ada! Jadi ya tetap saja saya kesulitan mengikuti ibadah. Jangankan mengerti kotbah pendetanya, sedangkan kalimat sederhana saja saya tidak mengerti. Sesederhana ini: mari kita menyanyikan lagu nomor 243, mari kita berdoa, siapa yang baru datang pertama kali? Bahkan anak-anak balita pun mengerti ketika diberi instruksi untuk berdiri atau duduk atau berkumpul. Suami saya mencoba menghibur dan memberi semangat dengan cerita masa lalunya ketika menempuh studi di Inggris. Beberapa bulan pertama memang sangat sulit memahami orang bicara karena logat mereka sangat berbeda.
Terlalu banyak hal-hal konyol yang terjadi selama saya berkeyakinan bahwa saya tidak mungkin bisa Bahasa Inggris. Anda yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan dengan hal-hal bodoh yang saya sebutkan sejak awal. Baiklah untuk mempersingkat cerita, langsung saja saya katakan bahwa Bahasa Inggris memang sulit, tapi bukannya tidak mungkin dipelajari. Masalahnya adalah, bagaimana caranya?
Prinsip yang saya pikir berlaku secara umum pada saat belajar apapun: yakin bahwa apa yang saya pelajari ini penting dan saya memerlukannya entah sekarang atau nanti. Dalam hal belajar Bahasa Inggris saya tidak menemukan kepentingannya sampai saya menghadapi kesulitan membaca buku teks di universitas, sungguh terlambat. Seandainya saja saya mengetahui pentingnya ketika masih SMP, mungkin keadaan akan berbeda, mungkin saya akan belajar lebih keras di mata pelajaran yang satu ini.
Tapi menyesal saja tidak berguna jika tidak ada tindak lanjut. Maka, lanjutkan! Apakah semudah mengatakannya? Sama sekali tidak, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya bahwa upaya perbaikan yang saya lakukan dengan masuk ke kursus bahasa pun nampak tidak menolong karena saat itu kebutuhan saya sudah sangat mendesak, yaitu membaca buku teks tingkat universitas. Ibarat penyakitan, kondisi saya sudah akut. Seharusnya saya mendapatkan pengobatan yang lebih intensif, tapi eh malah saya meninggalkan kursus karena putus asa.
Sekedar berbagi rasa, tanpa bermaksud mengeluh, perlu saya katakan bahwa kuliah matematika saya tidak berjalan dengan mulus karena satu dan lain hal yang salah satunya adalah kesulitan membaca buku teks. Apakah itu membuat saya jera dan segera berbenah? Saya selalu gagal dan gagal lagi dalam membangun motivasi belajar Bahasa Inggris. Sejak sekolah sampai masuk ke dunia kerja tak henti-hentinya saya dihajar dengan kesulitan karena masalah yang satu ini.
Saat menulis cerita ini, saya telah menempuh satu tahun dua bulan hidup di tanah rantau. Motivasi berhasil tumbuh karena terdesak kebutuhan hidup, yaitu ingin melanjutkan sekolah dan kebutuhan bersosialisasi. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang menuntun langkah hidup saya sampai sejauh ini. Saya anak bandel yang sudah seringkali ditegur dengan kesulitan dan kegagalan selama bertahun-tahun tapi tidak segera bertekun memperbaikinya.
Saat ini, saya sedang terus belajar dan meyakini bahwa ini memang penting. Jadi jangan heran ya kalau saya suka nge-blog dengan Bahasa Inggris, karena ini adalah arena belajar saya. Sebenarnya masih banyaaaaak sekali yang ingin saya tuliskan, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang. Lain kali saya akan tuliskan apa yang sudah terjadi dalam setahun ini, berkaitan dengan belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Norwegia. Pastinya banyak kejadian konyol, tak apa, biarlah dunia tertawa karena itu. Barangkali cerita ini menginspirasi orang lain? Ayo semangat belajar rek!
No comments:
Post a Comment