Hari ke dua magang mengajar, saya membuat kekacauan. Topik yang diberikan guru kepada saya sebenarnya sangat menarik, bagaimana menggambar elips dengan menggunakan jangka. Asyik sekali, pikir saya. Semalaman saya berpikir bagaimana akan membawakannya. Sebelum masuk kelas, saya minta guru pemandu mendengarkan saya memperagakan secara singkat yang akan saya ajarkan. Dia bilang ok. Jadi enak nih perasaan. Tapi yang terjadi tidaklah seperti yang diharapkan.
Saya ingin membuat pelajaran lebih menarik, maka mulailah saya mengajak mereka berinteraksi. Tapi karena terkendala bahasa, saya tidak bisa mengerti apa yang mereka katakan, interaksi pun jadi kacau. Tidak sesuai yang saya perkirakan. Itu adalah kesalahan pertama, kemampuan bahasa saya belum mumpuni untuk mengajar secara interaktif di kelas.
Kesalahan ke dua adalah, saya tidak benar-benar mencoba menggambar elips itu sebelum mengajar. Jadi ada hal-hal yang di luar perkiraan saya. Misalnya, ternyata jangka yang dipakai di papan tulis bisa dipakai paling jauh untuk radius tertentu. Sehingga saya terpaksa melakukan perubahan dengan menghapus lengkunga, memindahkan titik fokus dan sebagainya. Itu pasti membuat para murid kebingungan. Jadi bagaimana? Saya pun bingung, dan kebingungan itu membuat saya kehilangan akal sehat. Saya harus merancang skenario baru dalam sekejap. Itu membuat mereka menunggu tanpa kejelasan. Aaah... pokoknya parah deh.
Itu pendapat saya. Tapi apa kata guru pemandu? Dia tidak melihatnya separah itu. Padahal saya sudah mengacaukan kelasnya! Waktu saya bilang minta maaf, dia malah membahasnya dari sudut bahasa. Kebanyakan remaja, termasuk anaknya sendiri bicara dengan gaya khas anak muda, jadi memang tidak mudah mengerti mereka. Misalnya, mereka mengajukan pertanyaan tapi tidak menggunakan kalimat tanya. Itu bisa jadi masalah dalam berkomunikasi. Ya, saya perlu belajar memahami aspek itu.
Masalah pengaturan waktu, sarannya untuk perbaikan berikutnya adalah: beri mereka penjelasan apa yang harus mereka lakukan supaya tidak menunggu-nunggu. Saya akui itu benar. Evaluasi pribadi setelah hari ini: jangan kaku pada rencana, siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di kelas. Untuk bisa seperti itu pastinya butuh waktu dan pengalaman. Tapi buat pemula, saya pikir ada baiknya membuat perencanaan mengajar yang lebih matang. Di dalamnya sebisa mungkin tercantum kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Pada awalnya mungkin masih sedikit yang bisa terpikirkan, tapi nantinya akan lebih baik dan lebih baik lagi. Semakin berpengalaman seorang guru, semakin jelas melihat segala kemungkinan dan cara mengatasinya.
Berikutnya: Berinteraksi bukan berarti banyak bicara
Saya ingin membuat pelajaran lebih menarik, maka mulailah saya mengajak mereka berinteraksi. Tapi karena terkendala bahasa, saya tidak bisa mengerti apa yang mereka katakan, interaksi pun jadi kacau. Tidak sesuai yang saya perkirakan. Itu adalah kesalahan pertama, kemampuan bahasa saya belum mumpuni untuk mengajar secara interaktif di kelas.
Kesalahan ke dua adalah, saya tidak benar-benar mencoba menggambar elips itu sebelum mengajar. Jadi ada hal-hal yang di luar perkiraan saya. Misalnya, ternyata jangka yang dipakai di papan tulis bisa dipakai paling jauh untuk radius tertentu. Sehingga saya terpaksa melakukan perubahan dengan menghapus lengkunga, memindahkan titik fokus dan sebagainya. Itu pasti membuat para murid kebingungan. Jadi bagaimana? Saya pun bingung, dan kebingungan itu membuat saya kehilangan akal sehat. Saya harus merancang skenario baru dalam sekejap. Itu membuat mereka menunggu tanpa kejelasan. Aaah... pokoknya parah deh.
Itu pendapat saya. Tapi apa kata guru pemandu? Dia tidak melihatnya separah itu. Padahal saya sudah mengacaukan kelasnya! Waktu saya bilang minta maaf, dia malah membahasnya dari sudut bahasa. Kebanyakan remaja, termasuk anaknya sendiri bicara dengan gaya khas anak muda, jadi memang tidak mudah mengerti mereka. Misalnya, mereka mengajukan pertanyaan tapi tidak menggunakan kalimat tanya. Itu bisa jadi masalah dalam berkomunikasi. Ya, saya perlu belajar memahami aspek itu.
Masalah pengaturan waktu, sarannya untuk perbaikan berikutnya adalah: beri mereka penjelasan apa yang harus mereka lakukan supaya tidak menunggu-nunggu. Saya akui itu benar. Evaluasi pribadi setelah hari ini: jangan kaku pada rencana, siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di kelas. Untuk bisa seperti itu pastinya butuh waktu dan pengalaman. Tapi buat pemula, saya pikir ada baiknya membuat perencanaan mengajar yang lebih matang. Di dalamnya sebisa mungkin tercantum kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Pada awalnya mungkin masih sedikit yang bisa terpikirkan, tapi nantinya akan lebih baik dan lebih baik lagi. Semakin berpengalaman seorang guru, semakin jelas melihat segala kemungkinan dan cara mengatasinya.
Berikutnya: Berinteraksi bukan berarti banyak bicara
No comments:
Post a Comment