04 October 2012

Acara magang dihentikan

Nggak ada firasat-firasatan, tapi sudah menduga saja bahwa ini akan terjadi. Dan ini sudah terjadi. Dosen saya datang berkunjung pagi tadi, melihat saya mengajar kelas 10. Seperempat jam sebelum jam pelajaran habis kami duduk bertiga di ruang lain. Saya, guru pemandu dan dosen itu. Beberapa hal positif mereka temukan, tapi lebih besar hal negatifnya sehingga saya tidak mungkin lulus dengan kondisi seperti ini.

Dengan ini, saya tidak diijinkan melanjutkan magang padahal belum sampai setengah jalan. Alasannya, kasihan anak-anak kalau saya teruskan mengajar mereka. Nanti mereka tidak bisa mendapatkan pelajaran sebagaimana seharusnya. Wah, magang saya selesai duluan dua kali lebih cepat dari pada teman-teman yang lain!

Di ruang guru, satu teman sesama mahasiswa magang mengeluh pada saya. Sangat sulit mengajar anak-anak remaja itu, aku udah kepingin berhenti aja dari seminggu pertama kita di sini. Ini adalah pertama kalinya saya mendengar dia mengeluh. Catat: orang Norwegia sangat jarang mengeluh. Apalagi ini cowok! Hmm... ceritain nggak ya, bahwa kondisi saya lebih parah? Dia itu masih mendingan, kesulitannya masih dalam skala normal mahasiswalah. Nggak ah, saya tidak ingin jadi pengeluh di saat-saat seperti ini. Singkat cerita, akhirnya dia tahu bahwa saya tidak lulus. Semoga ini bisa menyemangati dia ya :)

Sejak menit dijatuhkannya putusan saya berhenti magang, saya jadi agresif memikirkan rencana cadangan. Sekarang saya sudah bebas dari beban mengajar. Bebas! Saya akan berkonsentrasi belajar bahasa, dan itu berarti sekolah adalah tempat yang tepat. Masuk di kelas-kelas sebagai tamu atau guru bantu. Dan hari selasa minggu depan akan ikut pelajaran menganyam di kelas 4 :)

Dalam perjalanan pulang, kali ini temen cewek yang nanya. "Eh kamu udah dinilai hari ini yah, gimana tadi?" Saya bilang enggak lulus, dia melongo. secara singkat saya ceritakan apa yang terjadi di kelas dan bagaimana harapan guru dan dosen tidak bisa saya penuhi. Dia merespon penuh ekspresi "Aah så skjedelig!" Ya... mau gimana lagi kalau memang keadannya begini?

Dan dia juga bertanya pada saya, kok kamu bisa menerimanya dengan senyum sih? Hm... kasih tau nggak ya, bahwa saya ini memang langganan gagal dalam banyak hal. Jadi udah latihan menahan diri terhadap rasa kecewa, marah atau putus asa. Nggak ah, nggak perlu bilang begitu nanti malah mendramatisir suasana. Cukup saya bilang bahwa ini mungkin adalah yang terbaik. Buktinya, saya sudah mengalami banyak kemajuan dari tidak bisa apa-apa sampai sekarang udah mendingan. Sampai di depan rumahnya, dia tersenyum melambaikan tangan "Ha det bra!"

Saya pun melanjutkan perjalanan pulang dengan terus berjalan kaki sampai rumah. Dalam hati saya bilang, jeg har det bra. Orang gagal dalam satu atau dua atau beberapa hal itu bukan berarti hidupnya berakhir. Hanya saja harus mengubah sedikit rencana dalam perjalanan hidup. Oh ya, dalam perjalanan pulang saya mampir ke dermaga dan membeli 4 ekor kepiting dari nelayan. Rencananya buat makan malam nanti, tapi suamiku akan makan dengan teman-temannya. Jadi, kupelihara aja mereka di bak cucian, hehehe... dikasih makan apa ya mereka ini?



Berikutnya: Kembali ke porsi kecil

No comments:

Post a Comment