03 October 2012

Antara optimis dan realistis

Setelah seminggu mengajar di kelas, akhirnya guru pemandu yang super optimis terhadap saya pun luluh juga. Dia berkata, ada hal yang dikhawatirkan mengenai saya. "Saya takut kamu tidak lulus karena masalah bahasa. Saya lihat matematikamu bagus, kamu bisa memahami semua bahan yang saya berikan. Seandainya tidak ada kendala bahasa seperti ini, saya yakin kamu akan jadi guru yang sangat baik." Oih, kata pak guru itu membuat saya senang dan sedih bercampur-baur.
"Benarkah Pak?" "Ya, tidak perlu diragukan. Tapi bukan saya yang menentukan lulus tidaknya mahasiswa magang. Dosen kalianlah yang menilai. Tahun-tahun sebelumnya juga ada yang tidak lulus dan saya tidak bisa berbuat banyak."

"Kamu sekarang kan lagi kursus bahasa, bagaimana kalau minta jadwal magangmu diundur aja beberapa bulan lagi biar hasilnya lebih baik?" Saya tertegun melihat kesungguhan bapak itu untuk membatu. "Benarkah pak? Saya bisa lakukan itu?" "Ya, mengapa tidak? Bagi saya tidak ada masalah kamu mau datang magang belakangan, tapi tanyakanlah kepada pihak universitas apakah itu memungkinkan."

Sekejap saya berbinar senang, tapi kemudian kembali lesu karena mengingat sesuatu. "Pak, seandainya pun saya sudah selesai dengan kursus bahasa, belum tentu juga saya bisa berkomunikasi dengan anak-anak. Mereka semuanya berbicara dalam dialek, sedangkan di tempat kursus saya tahunya hanya bahasa yang standart saja. Sepertinya kondisinya tidak akan jauh berbeda."

"Hmm... saya mengerti." Bapak itu mengangguk-angguk. "Seumpama kamu magang di Oslo mungkin akan lebih baik. Saya yakin itu." Usulan yang bagus, tapi itu terlalu jauh memikirkan alternatif itu. Justru yang saya pikirkan adalah bagaimana menaklukan bahasa super njelimet ini. "Pak, bolehkah saya terus berada di sini setelah selesai magang? Mungkin satu atau dua jam seminggunya supaya lebih banyak waktu dengan mereka dan membiasakan diri berkomunikasi dengan mereka. "Bisa, tentu bisa."

Oh... senangnya. Jadi seandainya saya tidak lulus dalam magang pun masih ada kesempatan buat belajar terus. Tapi bagaimanapun siapa sih yang ingin gagal? Saya masih mau berusaha terus sampai selesai. Dan besok adalah hari yang menakutkan. Salah satu dosen pedagogi akan datang dan menilai saya di kelas, pada jam pertama! Besok saya akan menggambar hiperbola dengan menggunakan bantuan garis normal. Duuuuh sumpek, sumpek, takut, takut!!

Berikutnya: Acara magang dihentikan

No comments:

Post a Comment