Naik, turun, naik, turun dengan kecepatan tak beraturan. Rasanya seperti naik jet coaster rusak. Pas keadaan tenang begini saya ingin menuliskannya sebelum lupa. Bagaimanapun, pengalaman hidup adalah pelajaran yang sangat berharga buat langkah ke depan yang masih sangat panjang.
Cerita terakhir yang sanggup saya tuliskan sebelumnya adalah hari-hari ketika saya dinyatakan tidak lulus magang, bahkan diberhentikan di tengah jalan dengan alasan supaya tidak merugikan para murid. Pada awalnya itu bisa saya hadapi dengan baik. Tetap tenang dan memandang dengan optimis bahwa setelah kegagalan itu pasti akan ada solusi.
Tapi, ketika hari-hari berjalan terus tanpa menemukan solusi yang tepat, capek juga yah. Maka saya pun berhenti menulis di blog. Serasa hidup di dunia maya, serasa membohongi diri sendiri dengan harapan-harapan yang belum jelas. Sampai memasuki minggu ke dua, habis sudah optimisme yang saya punya. Antara iya dan tidak akan melanjutkan studi, saya berjalan kaki ke mana-mana sambil merenung.
Apa benar yang saya lakukan ini? Atau memang sebenarnya ini adalah kesalahan? Apakah Tuhan sedang menghukum saya karena sesuatu hal? Ataukah Dia sedang mengarahkan saya pada hal lain yang saya belum tahu? Bagaimana mencari tahunya? Berbagai cara sudah saya coba, berbagai kalangan saya temui untuk meminta nasihat. Nasihat-nasihat yang sangat baik, saya pikirkan dan lakukan semua itu. Tapi masih juga suram.
Baiklah, saat ini bukan saat yang tepat juga untuk menyerah. Keseimbangan antara optimis dan realistis, saya pikir itulah yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan. Optimis, bahwa ke manapun arah perjalanan ini pasti ada sesuatu yang baik disediakan Tuhan. Realistis bahwa kemampuan saya belum memadai untuk melakukan hal-hal tertentu, tapi mungkin ada hal lain yang lebih tepat untuk dikerjakan.
Hmm.. apa yang akan terjadi selanjutnya? Misteri kehidupan.
Cerita terakhir yang sanggup saya tuliskan sebelumnya adalah hari-hari ketika saya dinyatakan tidak lulus magang, bahkan diberhentikan di tengah jalan dengan alasan supaya tidak merugikan para murid. Pada awalnya itu bisa saya hadapi dengan baik. Tetap tenang dan memandang dengan optimis bahwa setelah kegagalan itu pasti akan ada solusi.
Tapi, ketika hari-hari berjalan terus tanpa menemukan solusi yang tepat, capek juga yah. Maka saya pun berhenti menulis di blog. Serasa hidup di dunia maya, serasa membohongi diri sendiri dengan harapan-harapan yang belum jelas. Sampai memasuki minggu ke dua, habis sudah optimisme yang saya punya. Antara iya dan tidak akan melanjutkan studi, saya berjalan kaki ke mana-mana sambil merenung.
Apa benar yang saya lakukan ini? Atau memang sebenarnya ini adalah kesalahan? Apakah Tuhan sedang menghukum saya karena sesuatu hal? Ataukah Dia sedang mengarahkan saya pada hal lain yang saya belum tahu? Bagaimana mencari tahunya? Berbagai cara sudah saya coba, berbagai kalangan saya temui untuk meminta nasihat. Nasihat-nasihat yang sangat baik, saya pikirkan dan lakukan semua itu. Tapi masih juga suram.
Baiklah, saat ini bukan saat yang tepat juga untuk menyerah. Keseimbangan antara optimis dan realistis, saya pikir itulah yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan. Optimis, bahwa ke manapun arah perjalanan ini pasti ada sesuatu yang baik disediakan Tuhan. Realistis bahwa kemampuan saya belum memadai untuk melakukan hal-hal tertentu, tapi mungkin ada hal lain yang lebih tepat untuk dikerjakan.
Hmm.. apa yang akan terjadi selanjutnya? Misteri kehidupan.
No comments:
Post a Comment