03 December 2011

Enak ya, jadi kamu? #3

“Kenapa, ada yang aneh?” Reza berhenti mengetik. “Enggak, wajah kamu tuh.” ketahuan sedang mengamati, Saskia jadi salah tingkah. “Kenapa wajahku, ganteng ya?” Reza nyengir sambil meneruskan smsnya. “Yah.. lumayanlah.” “Oh ya? Trus, apa lagi Sas?” “Enak aja, dipuji dikit minta lagi.” “Abisnya, kamu jujur banget sih. Eh tapi aku suka kok, terusin aja.” “Huh, nggak ah. Nanti kepalamu jadi gede.” “Nggak pa-pa kok, nanti aku beli helm yang gede, hehe..” Reza memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, tertawa geli melihat wajah Saskia yang masih salah tingkah. “Dan, kamu kelihatan bahagia.” desis Saskia pelan. “Oh ya? Masa sih?” Reza bergaya mengingat-ingat sesuatu. “Masa aku keliatan bahagia?” “Kamu ngetik sms tadi sambil senyum-senyum, enak banget yah bisa deket sama ortu?” “Emangnya kamu enggak? Siapa dulu yang dianterin sampe di pintu kelas sama papanya?” “Yeee… itu kan waktu masih SD? Ada-ada aja kamu nih.” Wajah Saskia memerah. “Yah, abisnya kamu tuh lucu banget. Satu-satunya anak kelas tiga yang masih dianterin ortu sampe depan pintu kelas. Mana mungkin aku lupa, anak-anak sekelas juga pasti inget tuh!” Reza tertawa-tawa melihat wajah temannya memerah. “Udah, nggak usah malu-malu gitu. Mestinya kamu tuh bangga, aku aja iri sama kamu kok.” “Oh ya, kamu iri? Ha ha.. tapi sekarang aku deh yang iri sama kamu, ke mall bareng mama, euy!” “Apaan sih, biasa aja kali?” Reza mengeluarkan ponselnya lagi. Seandainya saja Saskia tahu, tidak semudah itu membujuk Mama keluar dari rumah, apalagi ke mall? “Hei, kamu kenapa?” disenggolnya lengan Saskia. “Heh, kamu iri beneran ya, ha ha!” “Iya.” Saskia mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Hei, Sas, aduh kamu kok malah sedih sih?” Reza kembali panik seperti di dalam restoran tadi. “Ha ha, kamu sih ngajakin cerita yang sedih-sedih.” Jawab Saskia tertawa, tapi matanya memerah dan basah. “Lha, kok aku? Cerita sedih apaan?” “Yang iri-iri itu tadi. Ngapain kamu iri sama aku? Papaku udah nggak pernah nganterin aku lagi.” “Ya, sorry deh kalo itu bikin kamu sedih. Tapi, masa kamu masih pengen dianterin sampe pintu kelas, yang bener aja?” “Za, asal kamu tau aja, sejak aku masuk SMA, Papa udah nggak pernah nganterin ke mana pun. Sekarang, Papa malah nggak peduli lagi sama aku.” Kalimat itu membuat Reza terbungkam, tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur temannya. Apakah ini penyebabnya sampai mabuk burger? “Kamu mau ceritain masalahmu?” Reza menawarkan diri setelah beberapa saat lamanya. “Ada-ada aja, mana mungkin aku cerita sama kamu?” “Kenapa emangnya?” “Cowok mana bisa ngerti? Apalagi kamu nggak pernah berada di posisiku. Udahlah lupain aja.” “Mau coba?” tanya Reza lagi. Saskia menatap lekat wajah temannya, kesungguhannya, ketulusannya. Mungkinkah curhat sama cowok? Aneh sekali rasanya. Tapi saat-saat seperti ini sangat dibutuhkan seorang pendengar. Apa salahnya dicoba? “Hm, Za, aku pusiiiiing banget!” Saskia memulai keluhannya. “Kamu sakit? Ya udah mendingan pulang, mandi air anget, terus tidur di kasur yang empuk. Makan masakan mamamu sendiri, main sama adikmu. Hm, siapa tuh namanya?” “Onny?” “Iya, Onny. Masih kecil kan?” “Kelas lima.” Saskia menarik nafas sambil berusaha menahan air matanya, membiarkannya terbendung di dalam. “Tuh kan, kamu gampang aja ngomong begitu karena kamu bisa pulang ke rumah yang hangat, bisa mandi pake air hangat, tidur di kasur yang empuk. Dan kamu punya Mama yang masak enak buat kamu.” “Emangnya rumahmu kenapa, kebanjiran?” Reza berusaha melucu. “Iya, kebanjiran.” Saskia pun tertawa lebar, “Banjir air mata.” Hening, mereka berhenti tertawa. Bendungan di mata Saskia jebol dan Reza pun serasa tenggelam di dalamnya. “Kenapa Sas, ada apa sama keluargamu?” “Udahlah Za, kamu nggak bakalan ngerti biarpun aku cerita sampe terjadi banjir air mata di mall.” “Hm, gitu ya?” “Ya, emangnya kamu pernah ngurus adik yang masih SD, yang gangguin kamu sepanjang hari?” Reza menggeleng, “Aku kan nggak punya adik.” “Ya udah, trus kamu pasti juga nggak pernah ngurusin binatang peliharaan papamu, yang ditinggalin selama berbulan-bulan.” “Papaku nggak punya binatang peliharaan.” Sekali lagi Reza menggeleng. “Ya udah, kamu emang nggak bakal bisa ngerti rasanya jadi aku sekarang ini. Punya mama yang tiap hari kerjaannya ngomel terus, marah terus sepanjang hari.” Hening lagi, hanya tersisa suara air terjun. “Gara-gara nyekolahin aku ke SMA favorit, Papa jadi kerja lebih keras. Pindah kantor di Sumbawa. Berbulan-bulan nggak pulang, semuanya demi nyekolahin aku.” “Itu bikin mamamu sedih? Udah berapa bulan Sas?” Saskia menatap lurus mata Reza, lalu kembali tertunduk. “Awalnya sebulan sekali pulang. Yang terakhir ini delapan bulan, sampai minggu lalu baru pulang. Katanya mau menceraikan Mama.” “Oops, Sas, tiba-tiba begitu??” “Sebulan lalu mama ngunjungin papa ke Sumbawa tanpa permberitahuan, maksudnya kasih surprise. Ternyata mama juga dapet kejutan balik, papa sama wanita lain. Sepulangnya dari Sumbawa mama nggak cerita apa-apa, tapi sikapnya murung dan sering marah. Aku sama Onny sering dibentak, dipukul. Minggu lalu baru semuanya jelas buat kami berdua.” “Sas, aku ikut prihatin sama keluargamu.” “Seandainya saja aku nggak ngotot masuk SMA Pelita, papa nggak akan sampai kerja di luar kota, pasti nggak selingkuh, pasti nggak menceraikan mama!” Saskia memukul-mukul bangku yang didudukinya, tidak peduli sekalipun tangannya sudah memerah dan kesakitan. “Udah Sas, cukup. Nanti kamu sakit sendiri.” Reza memegang tangan Saskia untuk menghentikannya. “Aku memang udah sakit Za, sakit di dalam sini jauh lebih besar! Kamu nggak tau kan rasanya, jadi biang perceraian orang tua. Sumber masalah, anak durhaka!” “Tapi kamu jangan nyakitin diri sendiri dong, kasihan tanganmu, liat nih.” Saskia menarik tangannya dari genggaman Reza. Betul juga, tangannya sudah memerah. Digosok-gosokkannya pada rok seragamnya sambil berusaha mengatur nafas kembali. Trrr...trrttrr.... getaran ponsel Reza mengejutkan mereka berdua. “Halo? Mama?? Iya, Reza di sekitar taman di lantai satu. Oh, udah di depan Matahari ya, Reza ke situ sekarang." “Sas, sayang banget aku mesti pergi sekarang. Kita ngobrol lagi lain kali?” “Oke.” Saskia tersenyum. “Trims, kamu pendengar yang sangat baik.” “Sampai besok di sekolah!” Reza melompat dari bangku, buru-buru berlari ke arah mereka datang tadi. Benar-benar anak mama, pikir Saskia. Semoga tidak melihat mereka, karena itu hanya akan membuat perasaan iri semakin besar. Tapi kalau tidak melihatnya akan membuat perasaan penasaran yang semakin besar. Jadi bagaimana? Sedetik, dua detik, Saskia pun berlari mengikuti Reza, berbelok cepat di balik papan promosi sebuah toko. Oops! Hampir saja Saskia menabrak Reza jika tidak cepat mengerem. Lagian Reza juga sih kenapa berhenti di dekat tikungan begitu. O'ouw?? Reza diapit dua orang wanita, yang kurus sibuk mengomeli sambil menjewer telinganya, dan yang berbadan besar sudah menangkap Saskia dengan sorot matanya. Bersambung ke bagian 4 1 2 3 4 5 6 7  


No comments:

Post a Comment