Senin. Hari itu akan jadi hari bersejarah. Semakin mendekati ke hari ini perasaan saya semakin menjadi-jadi naik turunnya seperti naik jet coaster. Sabtu malam kegelisahan itu semakin naik dan itu dibuktikan dengan saya terbangun sebelum waktunya. Pikiran saya dipenuhi dengan apa yang akan terjadi hari senin nanti. Saya akan masuk kelas untuk mengajar pada jam pertama.
Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya akan mengajar di sekolah betulan, di hadapan murid betulan, dengan bahan pelajaran betulan dan dengan bahasa yang sama sekali baru buat saya, Bahasa Norwegia. Bagaimana berhadapan dengan anak remaja di Norwegia? Bagaimana cara guru mengajar di sini? Begitu banyak keraguan dan ketakutan dalam pikiran sampai saya tidak bisa tidur lagi. Setiap kali memejamkan mata, justru melihat pemandangan kelas dengan puluhan anak-anak remaja.
Mereka menatap saya, menunggu apa yang akan saya katakan. Dan saya pun terdiam tidak tahu harus berkata apa. Suasana kelas beku, semuanya diam. Bahkan waktu pun saya perintahkan untuk berhenti. Yang boleh berjalan hanya otak saya untuk menyusun kalimat. Dalam khayalan itu, mulailah saya menyusun kalimat untuk menyapa mereka, «Hei og god morgen!» Lalu saya bingung lagi. Pastilah nanti mereka akan menjawab dengan «God morgen» juga. Tapi setelah itu apa? Saya pikir ada baiknya memperkenalkan diri di awal.
Apa yang akan saya katakan tentang diri saya? Saya tidak punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Haruskah saya menceritakan pengalaman atau alasan saya datang ke negeri ini? Atau mengapa saya berada di situ dan bertemu dengan mereka? Baiklah, sepertinya itu informasi yang terpenting karena itu melibatkan hidup mereka. Saya akan katakan gini: «Jeg er lærerstudent fra NTNU, navnet mitt er Rosalia.» Hm... informasi itu sudah mereka dapatkan kemarin waktu saya datang berkunjung di kelas mereka. Apa perlunya?
Begitu dan seterusnya sampai kepala saya pusing, khayalan itu terpaksa saya hentikan dulu. Saya harus tidur lagi. Tapi tidak bisa. Lama-lama di tempat tidur dengan perasaan itu membuat saya mual. Setelah ke WC sebentar, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat sepuluhan menit. Ah sudah pagi ternyata, ya sudah tidak perlu memaksakan untuk tidur lagi.
Saya kembali berbaring sambil berpikir-pikir. Lebih dari satu jam saya melakukannya. Sudah beberapa ide kalimat yang muncul dan suasana kelas dalam khayalan saya itu mulai menghangat. Para remaja itu tersenyum pada saya. Tiba-tiba suami saya terbangun dan bertanya kenapa saya sedang 'melek'. Saya bilang, udah pagi kok, paling sekarang udah jam 6. Lalu saya berdiri menengok jam, dan olala, masih jam 3 pagi! Lha kenapa yang tadi itu jam 5 lewat? Atau mungkin tadi itu sebenarnya pukul 01.25? Ya ampuuuun... ya udah mari kita kembali tidur.
Tapi saya benar-benar tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, saya berdiri lagi di depan kelas. Lalu otak saya secara otomatis berputar untuk menemukan kalimat atau tindakan yang tepat saat itu.
Satu jam lagi berlalu dan kepala pun tambah pusing, maka saya putuskan untuk bangun saja dan melakukan hal lain. Saya bangun, membuka komputer, jalan-jalan ke dunia maya yang lebih nyata. Facebook :p.
Sampai pagi tiba, sampai siang tiba, sampai sore tiba, saya belum ngantuk juga. Hari minggu itu saya lalui seperti biasanya. Pergi ke gereja, jalan dengan teman-teman dan bersantai tanpa rasa kantuk. Saya yakin ada yang tidak beres dalam diri saya saat itu. Ada kekhawatiran yang terlalu besar di dalam hati saya. Itu tidak nampak pada penampilan luar, tapi itu benar-benar mengganggu di dalam sini, di hati dan pikiran. Hanya Tuhan yang melihatnya.
Sore hari, saya coba untuk berbaring santai. Saya tahu saatnya semakin dekat, tapi kecemasan tidak akan menambahkan sedikitpun keberhasilan bukan? Saya sudah terlalu banyak berpikir dan mungkin yang saya perlukan sekarang ini ada perasaan tenang dan percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Baru sesaat saya berbaring, langsung tertidur pulas. Hohoho.. saya tahu sekarang bahwa badan saya sudah kecapekan sebenarnya.
Menjelang waktu makan malam barulah suami saya membangunkan. Sambil menyiapkan makanan saya mulai berlatih berbicara di depannya dan dia berpura-pura sebagai murid SMP. Saya mencoba membayangkan di situ ada puluhan anak, bukan hanya satu. Setiap jawaban atau interaksi dengan dia saya umpamakan sebagai perwakilan dari beberapa anak secara bergantian. Saya pun berusaha untuk melihat ke seluruh ruangan untuk mengadakan kontak mata dengan semua yang ada di kelas.
Simulasi itu sangat banyak membantu, terima kasih suamiku sayang. Hati dan pikiran lebih tenang. Bukan berarti saya sangat percaya diri sampai 100% yakin dengan rencana-rencana saya, karena tetap saja saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Bagaimana pun respon para murid besok, saya pasrah. Saya tidak berencana akan tampil sangat hebat dan membuat hadirin bersorak dengan gegap gempita. Kampanye pilkada kali???
Saya percaya Tuhan menolong saya. Saya percaya guru pemandu saya juga akan menolong. Saya juga percaya para murid akan menolong saya. Kepada ketiganya saya ungkapkan secara terang-terangan. Kepada Tuhan saya katakan yang sebenarnya bahwa saya tidak mampu, dan dan berterima kasih untuk kesempatan emas ini. Kepada guru pemandu saya katakan bahwa kendala terbesar saya adalah bahasa. Saya tidak takut dengan bahan geometrinya, tapi bagaimana saya akan menyampaikannya, itu yang masalah. Saya juga belum berpengalaman menjadi guru. Juga belum pernah berkontak dengan sekolah ataupun murid di Norwegia. Jadi saya sangat ragu akan hal itu. Kepada para murid di kelas nanti akan saya sampaikan bahwa saya adalah mahasiswa yang sedang belajar dan perlu bantuan mereka saat ini. Tapi bagaimana respon mereka, itu yang tidak bisa saya perkirakan.
Berikutnya: Hari pertama magang
Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya akan mengajar di sekolah betulan, di hadapan murid betulan, dengan bahan pelajaran betulan dan dengan bahasa yang sama sekali baru buat saya, Bahasa Norwegia. Bagaimana berhadapan dengan anak remaja di Norwegia? Bagaimana cara guru mengajar di sini? Begitu banyak keraguan dan ketakutan dalam pikiran sampai saya tidak bisa tidur lagi. Setiap kali memejamkan mata, justru melihat pemandangan kelas dengan puluhan anak-anak remaja.
Mereka menatap saya, menunggu apa yang akan saya katakan. Dan saya pun terdiam tidak tahu harus berkata apa. Suasana kelas beku, semuanya diam. Bahkan waktu pun saya perintahkan untuk berhenti. Yang boleh berjalan hanya otak saya untuk menyusun kalimat. Dalam khayalan itu, mulailah saya menyusun kalimat untuk menyapa mereka, «Hei og god morgen!» Lalu saya bingung lagi. Pastilah nanti mereka akan menjawab dengan «God morgen» juga. Tapi setelah itu apa? Saya pikir ada baiknya memperkenalkan diri di awal.
Apa yang akan saya katakan tentang diri saya? Saya tidak punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Haruskah saya menceritakan pengalaman atau alasan saya datang ke negeri ini? Atau mengapa saya berada di situ dan bertemu dengan mereka? Baiklah, sepertinya itu informasi yang terpenting karena itu melibatkan hidup mereka. Saya akan katakan gini: «Jeg er lærerstudent fra NTNU, navnet mitt er Rosalia.» Hm... informasi itu sudah mereka dapatkan kemarin waktu saya datang berkunjung di kelas mereka. Apa perlunya?
Begitu dan seterusnya sampai kepala saya pusing, khayalan itu terpaksa saya hentikan dulu. Saya harus tidur lagi. Tapi tidak bisa. Lama-lama di tempat tidur dengan perasaan itu membuat saya mual. Setelah ke WC sebentar, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat sepuluhan menit. Ah sudah pagi ternyata, ya sudah tidak perlu memaksakan untuk tidur lagi.
Saya kembali berbaring sambil berpikir-pikir. Lebih dari satu jam saya melakukannya. Sudah beberapa ide kalimat yang muncul dan suasana kelas dalam khayalan saya itu mulai menghangat. Para remaja itu tersenyum pada saya. Tiba-tiba suami saya terbangun dan bertanya kenapa saya sedang 'melek'. Saya bilang, udah pagi kok, paling sekarang udah jam 6. Lalu saya berdiri menengok jam, dan olala, masih jam 3 pagi! Lha kenapa yang tadi itu jam 5 lewat? Atau mungkin tadi itu sebenarnya pukul 01.25? Ya ampuuuun... ya udah mari kita kembali tidur.
Tapi saya benar-benar tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, saya berdiri lagi di depan kelas. Lalu otak saya secara otomatis berputar untuk menemukan kalimat atau tindakan yang tepat saat itu.
Satu jam lagi berlalu dan kepala pun tambah pusing, maka saya putuskan untuk bangun saja dan melakukan hal lain. Saya bangun, membuka komputer, jalan-jalan ke dunia maya yang lebih nyata. Facebook :p.
Sampai pagi tiba, sampai siang tiba, sampai sore tiba, saya belum ngantuk juga. Hari minggu itu saya lalui seperti biasanya. Pergi ke gereja, jalan dengan teman-teman dan bersantai tanpa rasa kantuk. Saya yakin ada yang tidak beres dalam diri saya saat itu. Ada kekhawatiran yang terlalu besar di dalam hati saya. Itu tidak nampak pada penampilan luar, tapi itu benar-benar mengganggu di dalam sini, di hati dan pikiran. Hanya Tuhan yang melihatnya.
Sore hari, saya coba untuk berbaring santai. Saya tahu saatnya semakin dekat, tapi kecemasan tidak akan menambahkan sedikitpun keberhasilan bukan? Saya sudah terlalu banyak berpikir dan mungkin yang saya perlukan sekarang ini ada perasaan tenang dan percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Baru sesaat saya berbaring, langsung tertidur pulas. Hohoho.. saya tahu sekarang bahwa badan saya sudah kecapekan sebenarnya.
Menjelang waktu makan malam barulah suami saya membangunkan. Sambil menyiapkan makanan saya mulai berlatih berbicara di depannya dan dia berpura-pura sebagai murid SMP. Saya mencoba membayangkan di situ ada puluhan anak, bukan hanya satu. Setiap jawaban atau interaksi dengan dia saya umpamakan sebagai perwakilan dari beberapa anak secara bergantian. Saya pun berusaha untuk melihat ke seluruh ruangan untuk mengadakan kontak mata dengan semua yang ada di kelas.
Simulasi itu sangat banyak membantu, terima kasih suamiku sayang. Hati dan pikiran lebih tenang. Bukan berarti saya sangat percaya diri sampai 100% yakin dengan rencana-rencana saya, karena tetap saja saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Bagaimana pun respon para murid besok, saya pasrah. Saya tidak berencana akan tampil sangat hebat dan membuat hadirin bersorak dengan gegap gempita. Kampanye pilkada kali???
Saya percaya Tuhan menolong saya. Saya percaya guru pemandu saya juga akan menolong. Saya juga percaya para murid akan menolong saya. Kepada ketiganya saya ungkapkan secara terang-terangan. Kepada Tuhan saya katakan yang sebenarnya bahwa saya tidak mampu, dan dan berterima kasih untuk kesempatan emas ini. Kepada guru pemandu saya katakan bahwa kendala terbesar saya adalah bahasa. Saya tidak takut dengan bahan geometrinya, tapi bagaimana saya akan menyampaikannya, itu yang masalah. Saya juga belum berpengalaman menjadi guru. Juga belum pernah berkontak dengan sekolah ataupun murid di Norwegia. Jadi saya sangat ragu akan hal itu. Kepada para murid di kelas nanti akan saya sampaikan bahwa saya adalah mahasiswa yang sedang belajar dan perlu bantuan mereka saat ini. Tapi bagaimana respon mereka, itu yang tidak bisa saya perkirakan.
Berikutnya: Hari pertama magang
No comments:
Post a Comment