Dengan pengalaman buruk kemarin, maka hari ini saya lebih berhati-hati. Semalam saya berlatih menggambar elips dengan benang. Benar, ternyata itu sulit. Benang yang dibentangkan berkali-kali terselip di bawah pensil. Saya ganti pakai tusukan sate, sama juga. Lalu mencoba mempertahankan posisinya dengan membuat guratan pada tusukan sate. Itu berhasil, tapi itu berarti saya harus menyediakan banyak tusukan sate dan meraut semuanya. Atau pelajaran di kelas akan berubah jadi meraut tusuk sate.
Suami saya menyarankan untuk pakai pita untuk menghindari selip ke bawah pensil. Lalu kami turun ke basement mencari pita yang dimaksud. Semalam jadi terlambat tidur gara-gara percobaan tidak berjalan mulus seperti yang saya bayangkan. Belum lagi ditambah memperagakan penjelasannya, menghafalkan definisi elips dalam bahasa Norwe. Tapi yah lebih baik beginilah, masalahnya ketahuan sebelum benar-benar di kelas.
Pagi-pagi saya tidak sempat memperagakannya di hadapan guru pemandu. Saya datang pas waktu masuk dan langsung ke kelas. Tarik nafas panjang, tahan, buang. Itu tips yang diberikan dosen untuk menenangkan diri kalau sedang gugup.
Setelah selesai mengabsen, guru menyampaikan beberapa pengumuman lalu mempersilahkan saya memulai. Saya sangat cemas mengingat yang sebelumnya sangat kacau. Saya hampir tidak berani memandang wajah mereka. Tapi saya harus. Bagaimana mungkin saya mengajar tanpa memandang mereka?
Saya mulai dengan kalimat standart, "God morgen. I dag skal vi forsette videre med ellipsen. Husker dere hva ellipsen er?" Begitu tanya saya dan mendapat respon yang baik. Lalu saya minta satu anak laki-laki yang duduk di depan untuk menggambar elips di papan tulis. Setelah itu saya tanya, "Kan du si med en setning, hva ellipsen er? Bare en enkel setning." Anak itu bingung, lalu saya berikan catatan saya, dia bacakan. Hehe... itu cara saya ngeles membaca.
Eh, tapi nggak ngeles-ngeles banget kok. Berikutnya saya pakai gambar dia di papan tulis untuk menjelaskan berdasarkan definisi yang tadi sudah dibacakan. Dan itu berarti saya mengulangnya sekali lagi tanpa membaca. Sepertinya itu membuat mereka lebih paham.
Untuk lebih jelasnya lagi, saya ajak mereka menggambar elips dengan metode yang sudah disiapkan. "Dere brukte passer for å tegne ellipsen på tirsdag, men nå skal vi bruke andre metode med bånd." Saya keluarkan segulung pita, memanggil seorang anak ke depan untuk membantu. Seorang anak perempuan mengangkat tangan. Jadilah dia dan saya menggambar bersama diikuti perhatian dari seluruh kelas. Semuanya begitu tenang memperhatikan, oh saya terkesima.
Inilah interaksi yang nampaknya tepat buat saya. Dengan peragaan, bukan dengan banyak ngomong karena nanti akan kacau. Setelah itu saya minta satu anak laki-laki yang lagi malas-malasan untuk membagikan pita kepada teman-temannya sementara saya membagikan isolasi dan kertas. Kelas jadi semrawut seketika karena mereka bermain-main dengan pita itu. Waduh, cilakak.
Beberapa menit kemudian suasana kembali tenang dan mereka mulai sibuk. Ada yang sibuknya menggambar elips, ada pula yang sibuk mengurai pita yang mbulet di tangannya. Kelas berjalan tertib, sampai guru pemandu bilang bagus. Tidak perlu buka ruang kerja kelompok seperti biasanya, di sini saja mereka bisa bekerja dengan tertib. Maklumlah biasanya kalau jumlah terlalu banyak di kelas harus dipisah dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengurangi keributan.
Satu jam kemudian beberapa anak yang sudah selesai dipanggil guru untuk menggambar di halaman sekolah. Mereka menggambar di tembok! Guru bilang, tiba-tiba saja ide itu muncul dan saya pikir akan sangat bagus tembok kosong itu digambari bangun geometri. Oiiiih... mereka pun senang sekali. Semakin mendekati akhir jam pelajaran semakin banyak anak yang bergabung dengan tim menggambar di tembok itu. Padahal udara sangat dingin, sekitar 5 derajat Celcius.
Itulah pengalaman menyenangkan pada hari ini di kelas 10. Tapi apa yang terjadi pada jam yang lain? Saya masuk di kelas 8 dan diberi tugas untuk membahas latihan soal. Olala, saya tidak siap untuk itu. Dan membahas latihan soal berarti akan banyak bicara. Gimana caranya?? Pak, saya takut. Saya belum pernah mengajar di kelas ini sebelumnya dan ini langsung membahas soal yang saya tidak tahu menahu. Bukan masalah pada soalnya, tapi bagaimana cara saya mengerjakan mungkin akan berbeda dengan cara Anda. Saya bilang begitu, si Bapak senyum-senyum aja. "Det går bra." Duuuh gimana bisa baik wong saya tahu saya tidak bisa.
Ya okelah kalau begitu, saya terima tantangan ini. Kelas berjalan baik pada awalnya, sampai saya merasa ada yang tidak beres. Anak laki-laki sangat bersemangat dan bergantian menjawab bahkan memberi penjelasan atas jawabannya. Sementara itu anak-anak perempuan duduk diam saja. Salah satu yang sempat saya dekati malah sedang menggambar yang lain. Tuh kan bener, saya tidak bisa menguasai kelas dengan baik kalau harus menggunakan banyak ngomong.
Sedih deh, melihatnya. Target membahas 10 soal jadi bisa membahas 20 soal hanya karena saya tidak pintar ngomong. Setidaknya separuh kelas tertinggal di belakang dan saya tidak tahu bagaimana membawa mereka kembali. Pembahasan berjalan terlalu cepat tidak semestinya. Kacau kan?
Jadi, kalau boleh disimpulkan, hari ini 1-1. Baik di satu kelas, tapi kacau di kelas yang lain.
Berikutnya: Antara optimis dan realistis
Suami saya menyarankan untuk pakai pita untuk menghindari selip ke bawah pensil. Lalu kami turun ke basement mencari pita yang dimaksud. Semalam jadi terlambat tidur gara-gara percobaan tidak berjalan mulus seperti yang saya bayangkan. Belum lagi ditambah memperagakan penjelasannya, menghafalkan definisi elips dalam bahasa Norwe. Tapi yah lebih baik beginilah, masalahnya ketahuan sebelum benar-benar di kelas.
Pagi-pagi saya tidak sempat memperagakannya di hadapan guru pemandu. Saya datang pas waktu masuk dan langsung ke kelas. Tarik nafas panjang, tahan, buang. Itu tips yang diberikan dosen untuk menenangkan diri kalau sedang gugup.
Setelah selesai mengabsen, guru menyampaikan beberapa pengumuman lalu mempersilahkan saya memulai. Saya sangat cemas mengingat yang sebelumnya sangat kacau. Saya hampir tidak berani memandang wajah mereka. Tapi saya harus. Bagaimana mungkin saya mengajar tanpa memandang mereka?
Saya mulai dengan kalimat standart, "God morgen. I dag skal vi forsette videre med ellipsen. Husker dere hva ellipsen er?" Begitu tanya saya dan mendapat respon yang baik. Lalu saya minta satu anak laki-laki yang duduk di depan untuk menggambar elips di papan tulis. Setelah itu saya tanya, "Kan du si med en setning, hva ellipsen er? Bare en enkel setning." Anak itu bingung, lalu saya berikan catatan saya, dia bacakan. Hehe... itu cara saya ngeles membaca.
Eh, tapi nggak ngeles-ngeles banget kok. Berikutnya saya pakai gambar dia di papan tulis untuk menjelaskan berdasarkan definisi yang tadi sudah dibacakan. Dan itu berarti saya mengulangnya sekali lagi tanpa membaca. Sepertinya itu membuat mereka lebih paham.
Untuk lebih jelasnya lagi, saya ajak mereka menggambar elips dengan metode yang sudah disiapkan. "Dere brukte passer for å tegne ellipsen på tirsdag, men nå skal vi bruke andre metode med bånd." Saya keluarkan segulung pita, memanggil seorang anak ke depan untuk membantu. Seorang anak perempuan mengangkat tangan. Jadilah dia dan saya menggambar bersama diikuti perhatian dari seluruh kelas. Semuanya begitu tenang memperhatikan, oh saya terkesima.
Inilah interaksi yang nampaknya tepat buat saya. Dengan peragaan, bukan dengan banyak ngomong karena nanti akan kacau. Setelah itu saya minta satu anak laki-laki yang lagi malas-malasan untuk membagikan pita kepada teman-temannya sementara saya membagikan isolasi dan kertas. Kelas jadi semrawut seketika karena mereka bermain-main dengan pita itu. Waduh, cilakak.
Beberapa menit kemudian suasana kembali tenang dan mereka mulai sibuk. Ada yang sibuknya menggambar elips, ada pula yang sibuk mengurai pita yang mbulet di tangannya. Kelas berjalan tertib, sampai guru pemandu bilang bagus. Tidak perlu buka ruang kerja kelompok seperti biasanya, di sini saja mereka bisa bekerja dengan tertib. Maklumlah biasanya kalau jumlah terlalu banyak di kelas harus dipisah dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengurangi keributan.
Satu jam kemudian beberapa anak yang sudah selesai dipanggil guru untuk menggambar di halaman sekolah. Mereka menggambar di tembok! Guru bilang, tiba-tiba saja ide itu muncul dan saya pikir akan sangat bagus tembok kosong itu digambari bangun geometri. Oiiiih... mereka pun senang sekali. Semakin mendekati akhir jam pelajaran semakin banyak anak yang bergabung dengan tim menggambar di tembok itu. Padahal udara sangat dingin, sekitar 5 derajat Celcius.
Itulah pengalaman menyenangkan pada hari ini di kelas 10. Tapi apa yang terjadi pada jam yang lain? Saya masuk di kelas 8 dan diberi tugas untuk membahas latihan soal. Olala, saya tidak siap untuk itu. Dan membahas latihan soal berarti akan banyak bicara. Gimana caranya?? Pak, saya takut. Saya belum pernah mengajar di kelas ini sebelumnya dan ini langsung membahas soal yang saya tidak tahu menahu. Bukan masalah pada soalnya, tapi bagaimana cara saya mengerjakan mungkin akan berbeda dengan cara Anda. Saya bilang begitu, si Bapak senyum-senyum aja. "Det går bra." Duuuh gimana bisa baik wong saya tahu saya tidak bisa.
Ya okelah kalau begitu, saya terima tantangan ini. Kelas berjalan baik pada awalnya, sampai saya merasa ada yang tidak beres. Anak laki-laki sangat bersemangat dan bergantian menjawab bahkan memberi penjelasan atas jawabannya. Sementara itu anak-anak perempuan duduk diam saja. Salah satu yang sempat saya dekati malah sedang menggambar yang lain. Tuh kan bener, saya tidak bisa menguasai kelas dengan baik kalau harus menggunakan banyak ngomong.
Sedih deh, melihatnya. Target membahas 10 soal jadi bisa membahas 20 soal hanya karena saya tidak pintar ngomong. Setidaknya separuh kelas tertinggal di belakang dan saya tidak tahu bagaimana membawa mereka kembali. Pembahasan berjalan terlalu cepat tidak semestinya. Kacau kan?
Jadi, kalau boleh disimpulkan, hari ini 1-1. Baik di satu kelas, tapi kacau di kelas yang lain.
Berikutnya: Antara optimis dan realistis
No comments:
Post a Comment